Berita Terkait
Ambon (Antara Maluku) - Warga Dusun Mamua, Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon, Maluku Tengah, terpaksa merayakan Idul Fitri 1433 H di gedung sekolah yang dijadikan tempat penampungan sementara.

"Kami akan rayakan Lebaran 2012 di lokasi pengungsian ini, karena rumah kami sudah hanyut akibat bencana banjir bandang, 1 Agustus 2012," kata salah seorang warga Mamua, Fitri Abdul Aji, saat ditemui ANTARA, Sabtu.

Sambil menangis, Fitri mengaku trenyuh karena harus merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa itu bersama suami dan empat orang anaknya di gedung SMP PGRI Mawah, dan SMA Negeri 6, Leihitu, yang terletak di dusun Mamua.

"Empat anak saya sempat menanyakan kenapa tidak pulang ke rumah saja, sehingga bisa merayakan Lebaran bersama-sama," ujar Fitri sambil berlinang air mata.

Dia mengaku sedih karena harus merayakan hari istimewa bagi umat Muslim itu, dalam suasana keprihatinan mendalam bersama keluarganya.

"Saya dan suami  tidak memiliki uang lebih untuk membeli baju baru kepada empat anak kami. Lebaran tahun ini benar-benar dirayakan dalam suasana keprihatinan," katanya.

Fitri mengakui, selain rumah seluruh pakaian maupun harta benda lainnya ikut terhanyut saat bencana banjir bandang terjadi.

Kendati demikian, Fitri mengaku bersama ibu-ibu lainnya yang mengungsi sedang bersiap-siap untuk membuat opor ayam dan ketupat, berkat sumbangan berbagai pihak yang datang memberi bantuan.

"Opor ayamnya akan dimakan bersama-sama dengan para pengungsi lainnya seusai Shalat Ied Idul Fitri, Minggu (20/8) pagi," ujar Fitri seraya menunjukkan 10 ekor ayam yang telah dipotong dan akan dimasak.

Tanpa Baju Koko

Dua orang anak pengungsi Dusun Mamua, Rasman Akib dan La Edo mengaku, tidak mempunyai baju koko baru untuk merayakan Idul Fitri tahun ini.

"Katong seng ada baru koko baru. lebaran pake baju biasa saja," ujar keduanya dengan dialeg Ambon yang kental.

Keduanya mengaku tidak memaksakan orang tuanya membeli baju baru untuk merayakan Lebaran tahun ini, karena memahami keberadaan mereka yang harus hidup dilokasi penampungan sementara.

"Mudah-mudahan rumah kami secepatnya dapat dibangun kembali oleh pemerintah, sehingga kami dapat berkumpul bersama lagi," ujar Rasman Akib.

Sebanyak 220 kepala keluarga (KK) atau 1.600-an jiwa warga dusun Mamua terpaksa harus mengungsi ke gedung milik pemerintah, rumah kebun maupun ke sanak keluarga lainnya, karena rumah mereka hancur dan rusak parah akibat banjir bandang yang melanda daerah itu, 1 Agustus 2012.

Sebanyak 36 KK diantaranya mengungsi di SMP PGRI Mawah dan SMA Negeri 6 Leihitu, sedangkan 22 KK ditampung pada SD Negeri II, Dusun Mawah, sedangkan sisanya mengungsi di rumah kebun maupun keluarga terdekat.

Namun warga yang mengungsi di bangunan sekolah ini, hanya diizinkan tinggal hingga 25 Agustus, karena akan digunakan untuk proses belajar-mengajar siswa yang akan berjalan normal pada 27 Agustus mendatang.

Editor: John Nikita
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar