Senin, 26 Juni 2017

Kodam Pattimura Sosialisasi Bahaya Merkuri di SBB

id Kodam Pattimura
Kodam Pattimura Sosialisasi Bahaya Merkuri di SBB
Kodam Pattimura bersama Pemkab Seram Bagian Barat menggelar sosialisasi bahaya merkuri (Pendam 16)
Ambon, 19/5 (Antara Maluku) - Kodam XVI/Pattimura bersama Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) menggelar kegiatan Sosialisasi Bahaya Merkuri, bertempat di Pos Satgas Perbatasan (Yonif 726/Tamalatea) Desa Iha dan Luhu, Kecamatan Piru.

Siaran Penerangan Kodam XVI/Pattimura yang diterima Antara, Jumat, menyatakan kegiatan itu menekankan pentingnya masyarakat di dua desa tersebut berpola hidup sehat dan menghindari penggunaan merkuri yang sangat membahayakan kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia.

Pangdam dalam amanat yang dibacakan oleh PA Ahli Bidang Hukum dan Humaniter Kolonel Inf Masduki dihadapan ratusan warga Desa Iha dan Luhu menyampaikan, sosialisasi ini dijadikan sebagai momentum dan media sharing dalam menyampaikan permasalahan tentang bahaya penggunaan Merkuri.

Dr.Yosep William, Pakar kesehatan sebagai Ketua Tim Sosialisasi menyampaikan Indonesia merupakan penyumbang terbesar pencemaran merkuri dan salah satu Negara dengan pencemaran merkuri tertinggi di Asia Tenggara.

Pada 2005 terindikasi 5000 VVM meningkat dua kali lipat, pada 2010 menjadi10.000 VVM. Untuk itu Kodam Pattimura dengan Program Emas Biru dan Emas Hijaunya merupakan solusi masalah bahaya merkuri ini.Selain lebih nyaman dan Maju, hasil laut dan pertanian dapat melimpah sehingga mampu menunjang ekonomi masyarakat tanpa harus menambang.

Dijelaskan, merkuri atau yang juga disebut air raksa (Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu-batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik.

Merkuri yang ada di dalam tanah, air, dan udara relatif rendah. Namun, berbagai jenis aktivitas manusia dapat meningkatkan kadar merkuri menjadi tinggi, misalnya penambangan yang dapat menghasilkan merkuri sebanyak 10.000 ton per tahun.

Pekerja yang mengalami kontak dengan merkuri dapat menderita berbagai jenis penyakit yang membahayakan.

Batu cinabar (Dragon Blade Stone) merupakan bahan pembuat merkuri.Pembuangan merkuri terbesar berasal dari tambang emas rakyat lokal. Contohnya penambangan emas di Gunung Botak dan Gunung Gogorea yang mencapai 6 Ton.

Adapun risiko bahaya merkuri yang mengganggu kesehatan seperti penggunaan bahan itu pada kosmetika yang terbukti berbahaya dan dilarang di berbagai negara.

Merkuri bersifat korosif pada kulit, mengoleskannya pada kulit akan membuat lapisan kulit semakin menipis.

Selain itu, merkuri juga berisiko mengganggu berbagai organ tubuh seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, dan sistem kekebalan tubuh.

Merkuri tidak hanya akan berdampak kepada orang dewasa. Bayi dan anak merupakan golongan yang juga tidak luput dari risiko dampak merkuri dan efek sampingnya.

Pencemaran lingkungan akibat merkuri pernah terjadi di Kepulauan Seribu, Jakarta. Banyak anak usia di bawah tiga tahun meninggal.

Pada Lingkungan Perairan yang telah tercemar logam berat merkuri bukan hanya membahayakan komunitas biota yang hidup dalam perairan tersebut, tetapi juga akan membahayakan kesehatan manusia. Hal ini karena sifat logam berat yang persisten pada lingkungan, bersifat toksik pada konsentrasi tinggi dan cenderung terakumulasi pada biota.

Dampak merkuri tidak terasa langsung namun muncul setelah 5-10 Tahun mendatang.

Turut Hadir pada kegiatan sosialisasi tersebut antara lain PA Ahli Pertahanan Negara Kolonel Inf Pramungkas, LO Al Kolonel Laut Azwar, Asisten Territorial Kodam XVI/Pattimura Kolonel Inf Ali Aminudin, Sekda Kabupaten SBB Manshur Tuharea, Dandim 1502/Masohi Letkol Inf Ahmad Fikri Dalimunthe, Kapolres Kab.SBB Akbp Agus Setiawan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup SBB, Alfin Tuasun, dan Kepala Dinas PU SBB Thomas Wattimena. 

Editor: John Nikita

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga