Senin, 25 September 2017

Pemkot Ambon Harus Fokus Atasi Masalah Sosial

id Ambon
Ambon, 7/9 (Antara Maluku) - Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon diminta untuk fokus menangani dan mengatasi permasalahan sosial di masyarakat, kata Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Ambon, James Maatita.

"Memasuki usia ke - 442 tahun cukup banyak prestasi dan penghargaan yang diraih kota Ambon, tetapi sejumlah permasalahan juga masih menjadi prioritas untuk ditangani seperti masyarakat miskin yang mencapai 19.000 jiwa, kasus HIV/Aids dan penanganan bencana alam," katanya di Ambon, Rabu.

Menurut dia, sejumlah persoalan penting untuk dibenahi dan dibutuhkan keterlibatan seluruh komponen warga kota untuk bersama mengatasi masalah.

"Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat sebagai bagian dari kota ini mengikuti seluruh aturan yang telah ditetapkan dan DPRD selaku penyambung aspirasi warga tentu akan terus mengawal dan berkoordinasi dengan Pemkot Ambon," ujarnya.

James menyatakan, pihaknya tidak akan tinggal diam untuk melihat berbagai persoalan sosial dengan melakukan koordinasi untuk mengatasi persoalan penduduk miskin.

"Kita harus mengetahui angka pasti penduduk miskin berapa banyak dan penyebabnya apa, karena pemerintah tidak bisa merumuskan bahkan mewujudkan rencana pembangunan tanpa mengetahui masalah yang terjadi di kota," tandasnya.

Merumuskan program perencanaan juga harus disertai dengan permasalahan yang terjadi dan upaya penyelesaian yakni bagaimana mengakomodir masalah tersebut dalam program yang akan dijalankan.

"Jika kita tidak mengetahi dengan pasti jumlah penduduk miskin bagaimana dapat dimasukan dalam program Pemkot? Kita juga harus berkerja sama dengan seluruh elemen untuk turut berpartisispasi dalam pembangunan, seperti BUMN sehingga kedepan jumlah penduduk miskin semakin menurun," kata James.

Sebelumnya Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy telah memamparkan sejumlah permasalahan sosial dalam pembangunan kota yang menjadi perhatian bersama, diantaranya laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan pemukiman.

Selain itu jumlah penduduk miskin yang mencapai 19.000 jiwa atau 4,64 persen pada 2016, jumlah kasus HIV/Aids yang meningkat dari 89 kasus pada 2015 menjadi 243 kasus di 2016 serta ancaman penyakit malaria yang mencapai 1.248 kasus pada 2016.

Masih ada juga persoalan mengenai kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah, penanggulangan bencana, perparkiran, kemacetan lalu lintas dan kesemrawutan pasar. Masalah penataan tata ruang kota dan pemukiman kumuh juga tidak lepas dari perhatian.

Editor: John Nikita

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga