Senin, 25 September 2017

26 Taman Budaya Ikut Temu Karya di Ambon

id Ambon
26 Taman Budaya Ikut Temu Karya di Ambon
Musisi berdarah Ambon, Glenn Fredly tampil saat Temu Karya Taman Budaya Indonesia ke-16 dan Pameran besar Seni Rupa ke-5 di Taman Budaya Karang Panjang, Kota Ambon, Maluku, Selasa (12/9) malam. Temu Karya Taman . (Jimmy Ayal)
Ambon, 13/9 (Antara Maluku) - Sebanyak 26 Taman Budaya di tanah air berpartisipasi dalam Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-16 tahun 2017 yang berlangsung di Kota Ambon Ambon, dibuka Gubernur Maluku, Said Assagaff di pelataran Taman Budaya Maluku di Karang Panjang, kecamatan Sirimau, Selasa (12/9) malam.

Perhelatan event seni budaya nasional yang dirangkai dengan Pameran Besar Seni Budaya ke-5 akan berlangsung 12-16 September 2017 dengan tema "Ekspresi Peradaban Kebangsaan" menjadi ajang parade dan pakaian daerah dari 26 provinsi, serta konser kolaborasi musik etnik dan moderen oleh sejumlah artis asal Kota Ambon.

Gubernur Said mengatakan, penyelenggaraan event seni budaya nasional tersebut dapat berdampak besar terutama merajut peradaban dan persaudaraan sejati antarsesama anak bangsa melalui seni dan budaya.

"Seni dan Budaya harus menjadi salah satu jembatan pere1kat untuk membangun keadaban dan persaudaraan anak bangsa di Indonesia, terutama menghadapi berbagai persoalan yang nyaris menimbulkan disintegrasi bangsa dewasa ini," tegasnya.

Menurutnya, seni budaya adalah media dialog dan perjumpaan yang mampu melampaui sekat agama, suku, bangsa, warga kulit bahkan negara, sehingga diyakini bisa menangkal berbagai persoalan yang marak akhir-akhir ini seperti praktek politik identitas berdasarkan agama dan suku serta masifnya praktek ujaran-ujaran kebencian, fitnah dan hoax di media sosial.

"Seni budaya bisa menjadi salah satu solusi untuk menekan, bahkan menghapuskan perbedaan serta menangkal berbagai bentuk tindakan yang memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa," katanya.

Menurut Gubernur, orang Maluku saat ini memandang seni dan budaya sebagai media dialog dan perjumpaan sangat efektif karena terbukti dapat menciptakan rekonsiliasi paska konflik sosial serta menjadi wadah untuk mengembangkan Maluku sebagai laboratorium kehidupan beragama terbaik di Indonesia.

"Karena itu tidak mengherankan jika saat ini di Maluku terdapat kolaborasi musik bernuansa Islam dan Kristen seperti musik Hadrat dan Sawat (Islam) dengan Totobuang atau peniup terompet gereja (Kristen), di samping berbagai bentuk kegiatan yang mengelaborasikan perpaduan budaya dan agama dalam sebuah paduan harmonisasi budaya," katanya.

Perkembangan seni dan budaya di Maluku saat ini banyak dipengaruhi oleh budaya bangsa-bangsa di dunia terutama Cina, Arab, India dan Eropa, diantaranya akulturasi seni budaya lokal dengan Islam dan Arab seperti budaya Abdau di Negeri Tulehu, Pukul sapu di Mamala-Morela serta musik Sawat-Hadrat.

Begitu juga akulturasi budaya Arab dan Melayu seperti tarian Dana-Dana serta campuran budaya lokal dengan budaya barat yang tercermin dalam tarian katreji, musik hawaian, tari orlapei, dansa Ola-ola dan tari Cakaiba.

Dia berharap kedua event seni budaya yang dihadiri ratusan seniman di tanah air dapat menjadi momentum pengembangan seni budaya secara efektif maupun sumber inspirasi pembangunan peradaban bangsa dan negara di masa mendatang.

Diharapkan seni dan budaya bangsa yang kaya dan beragam dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di dunia pendidikan sebagai salah satu instrumen transformasi peradaban yang sangat efektif untuk membentuk kepribadian generasi bangsa dengan multi kecerdasan dan talenta.

Editor: John Nikita

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga