Film "Pelangi di Mars" menggunakan teknologi extended reality (XR) dalam proses produksinya untuk menghadirkan pengalaman visual yang lebih imersif.
Produser film "Pelangi di Mars" Dendi Reynando dalam keterangan pers yang diterima di Ambon, Senin (20/4), mengatakan penggunaan teknologi tersebut untuk menghadirkan karya dengan standar global.
"Kami sadar teknologinya tidak mudah dan masih baru di Indonesia, tapi kami ingin membuktikan bahwa kreator lokal juga mampu menghasilkan karya dengan standar dunia," katanya.
Ia menjelaskan teknologi XR sebelumnya banyak digunakan dalam industri film internasional, seperti serial The Mandalorian dan film The Batman.
Film produksi Mahakarya Pictures yang disutradarai Upie Guava tersebut mengusung konsep hybrid antara animasi dan live-action dengan sentuhan visual berstandar global.
Dendi mengatakan film tersebut juga dilatarbelakangi keinginan menghadirkan karakter anak Indonesia yang lebih dekat dengan generasi muda.
"Ketika saya ajak anak saya ke bioskop atau ke toko mainan, hampir tidak ada karakter anak Indonesia yang bisa dia kenal. Dari situ saya merasa kita perlu menghadirkan karya yang benar-benar milik kita," ujarnya.
Proyek film ini mulai digarap sejak 2020 dan melibatkan ratusan kreator lokal dalam proses produksinya.
Dengan teknologi yang relatif baru di Indonesia, ia mengakui proses produksi tidak mudah, namun diharapkan dapat menjadi langkah awal pengembangan teknologi XR di industri kreatif nasional.
Editor : Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2026