"Deklarasi Ambon" menyuarakan penghentian konflik dan perlunya hidup damai sebagai hasil dari Pertemuan Pemuda Dunia untuk Perdamaian dan Harmoni ( International Youth for Word Peace and Harmony) di Ambon pada 28 September - 1 Oktober 2011.
Ketua DPD KNPI Maluku, Zahruddin Latuconsina, kepada ANTARA melalui telepon dari Jakarta, Selasa, mengatakan kesediaan Dubes Korsel itu merupakan hasil koordinasi Wakil Ketua Majelis Pemuda Dunia (Word Assembly of Youth - WAY), Ahmad Doli Kurnia.
Ahmad Doli Kurnia yang juga Ketua DPP KNPI sebagai salah satu pemrakarsa perlunya membangun prasasti "Deklarasi Ambon".
"Jadi dari tujuh Dubes negara sahabat yang diundang, baru dari Kosel yang telah menyatakan kesediaan berkunjung ke Ambon," ujar Zahruddin.
Enam Dubes lainnya yakni Denmark, Belanda, Brazil, Qatar, Fiji dan Jepang masih dikonfirmasi kepastian kehadiran mereka di Ambon.
Zahruddin mengatakan, koordinasi Ahmad Doli Kurnia dengan Kedutaan Besar Korsel juga dijajaki kerjasama untuk menandatangani kerja sama dengan DPD KNPI Maluku dalam upaya mengatasi angka pengangguran di kalangan pemuda setempat.
"Kami memprogramkan perlunya 'kursus kilat' untuk pemuda di Maluku agar menjadi wirausaha muda menindaklanjuti program pemerintah, terutama Kementerian Koperasi dan UMKM dengan memanfaatkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR)," katanya.
Doli Kurnia juga mengarahkan DPD KNPI Maluku memanfaatkan peresmian prasasti "deklarasi Ambon" untuk mempromosikan pesona wisata bahari, di samping sejarah dan budaya yang sebelum konflik 1999 menjadi sasaran studi banding para ilmuwan, baik dalam maupun luar negeri untuk menyaksikan jalinan keharmonisan antarumat beragama.
"Pemuda saatnya merealisasikan program - program strategis dalam mendukung pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja baru, mempromosikan potensi sumber daya alam (SDA) dan menjalin kerjasama dengan badan atau lembaga internasional terkait peningkatan kapasitas generasi muda," ujar Zahruddin.
Prasasti "Deklarasi Ambon" berdasarkan koordinasi dengan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu ditempatkan di Monumen Perdamaian Dunia yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan perayaan Hari Perdamaian Dunia di Ambon pada 25 November 2009.
Apalagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun telah memutuskan Ambon sebagai kota ke-34 situs Perdamaian Dunia.
Sebelumnya Ketua Panitia Pembangunan dan Peresmian Prasasti "Deklarasi Ambon", Stevy Silkate, mengatakan, telah berkoordinasi dengan Pemprov Maluku maupun Pemkot Ambon untuk menyukseskan kegiatan tersebut.
"Ikrar yang saat itu dibacakan di Monumen Perdamaian Dunia dalam bahasa Inggris oleh peserta dari Nigeria Erugo Innocent dan Funrneng Umbro dari Belanda berbahan baku tembaga itu sedang dirampungkan pembangunnya oleh seniman Yogyakarta," ujarnya.
Para pemuda dunia dalam "Deklarasi Ambon" itu menyatakan atas nama kemanusiaan dan dalam upaya mewujudkan perdamaian, keharmonisan dan cinta kasih di muka bumi, maka mereka mengutuk segala bentuk kekerasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di seluruh dunia.
Mereka juga menyerukan penghapusan segala bentuk diskriminasi yang terkait suku, agama dan ras.
Deklarasi juga menyerukan kepada seluruh masyarakat dunia untuk saling menghargai, menghormati dan menyebarkan budaya damai dalam semua aspek kehidupan dalam rangka mencegah dan menyelesaikan segala bentuk kekerasan dan konflik yang terjadi.
Pemerintah dan seluruh pemimpin dunia pun diminta serius mencegah dan menyelesaikan segala bentuk kekerasan dan konflik melalui pendekatan keadilan, pendidikan dan kesejahteraan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal tiap bangsa.
Selain itu, berkomitmen untuk terlibat aktif menjadi pelopor dan pelaku dalam mewujudkan dunia yang penuh kedamaian.
Pewarta: Lexy Sariwating: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.