Ambon (ANTARA) - Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa kerukunan dan keamanan menjadi modal utama membuka peluang investasi di daerah untuk kemajuan pembangunan.

“Kita harus jaga kerukunan dan keamanan, karena tanpa itu, tidak ada pembangunan yang bisa berjalan,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Ambon, Jumat.

Hal itu disampaikan saat melakukan dialog terbuka bertema "Menjaga Kerukunan, Keamanan dan Ketertiban untuk Aru yang Damai", di Kabupaten Kepulauan Aru.

Menurutnya, harmoni sosial menjadi syarat utama tumbuhnya kepercayaan antarwarga maupun kepada pemerintah demi membuka peluang investasi. Konflik antarkampung, katanya, bila tidak diselesaikan melalui hukum yang adil, berpotensi menghancurkan masa depan bersama.

Ia melanjutkan, kerukunan dan perdamaian memiliki kaitan langsung dengan peluang investasi di Maluku karena stabilitas sosial merupakan syarat utama bagi masuknya modal. Investor, baik dari dalam maupun luar negeri, selalu menempatkan keamanan sebagai pertimbangan pertama sebelum menanamkan usaha.

Situasi masyarakat yang rukun akan menciptakan iklim usaha yang kondusif, menekan risiko konflik, dan memberi kepastian bahwa aktivitas ekonomi dapat berjalan tanpa gangguan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai sektor strategis di Maluku.

“Pada sektor perikanan misalnya, pelabuhan di Dobo, Aru dan Ambon menjadi pintu ekspor tuna segar ke Jepang dan Tiongkok, yang hanya akan berlanjut bila rantai pasok berjalan aman,” kata dia.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa saat mengunjungi Kabuupaten Kepulauan Aru (ANTARA/HO-Pemprov Maluku)

Begitu pula di sektor pariwisata, destinasi kelas dunia seperti Banda Neira, Pulau Kei, dan Ora Beach hanya mampu menarik investor hotel dan resort jika daerah dipersepsikan damai.

Pada sektor energi dan pertambangan, proyek raksasa Blok Masela di Kepulauan Tanimbar membutuhkan dukungan keamanan sosial agar aktivitas produksi tidak terganggu. Bahkan dalam skala lokal, UMKM dan jaringan perdagangan modern juga hanya tumbuh jika distribusi bahan pangan dan barang dagangan tidak terhambat oleh konflik.

Saat ini berdasarkan data, realisasi investasi di Provinsi Maluku selama periode 2020-2024 menunjukkan tren meningkat yang signifikan, dari Rp4,1 triliun di tahun 2020 menjadi Rp7,1 triliun di tahun 2024, dengan total mencapai Rp27,6 triliun dan rata-rata pertumbuhan 12-15 persen per tahun.

Sektor utama penyumbang investasi meliputi pertambangan dan migas (khususnya proyek LNG Blok Masela), perikanan dan industri pengolahan, serta pariwisata. Investasi ini berasal dari penanaman modal asing yang didominasi Jepang, Tiongkok, Singapura, dan Korea Selatan, serta penanaman modal dalam negeri dari BUMN dan pengusaha lokal.

 

 



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026