Ambon (ANTARA) - Kepolisian Daerah (Polda) Maluku mengajak siswa di Kota Ambon untuk menghentikan budaya kekerasan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Tindakan kekerasan seperti tawuran dan perundungan bukanlah bentuk keberanian, melainkan cerminan lemahnya kontrol diri," kata Ps. Kanit 3 Sijagatah Dittahti Polda Maluku Aipda Ronald Rafles Pakey, di Ambon, Jumat.
Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan Pembinaan Rohani dan Sosialisasi Anti Kekerasan bagi siswa-siswi SMA Negeri 2 Ambon berlangsung di aula sekolah tersebut.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Polri dalam membentuk karakter pelajar yang berakhlak, toleran, serta menjauhi perilaku kekerasan.
Menurut dia budaya kekerasan tidak menunjukkan kehebatan, justru merusak masa depan.
"Mari bersama hentikan bullying dan tawuran. Gunakan energi muda kita untuk hal-hal positif dan membangun,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para pelajar agar bijak menggunakan media sosial. Dunia maya, kata dia, dapat menjadi ruang yang bermanfaat jika dimanfaatkan untuk menyebarkan inspirasi dan kebaikan, bukan kebencian atau provokasi.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala SMA Negeri 2 Ambon Ferdinan Philips Soumokil, Pamong Budaya Ahli Muda Kementerian Agama Provinsi Maluku Pdt. Carl H. Thenu, dan Penyuluh Agama Kristen Provinsi Maluku Lesly Taribuka.
Selain sosialisasi, kegiatan juga diisi dengan pembinaan rohani lintas agama yang menanamkan nilai kasih, toleransi, dan tanggung jawab sosial di kalangan pelajar.
Kepala SMA Negeri 2 Ambon Ferdinan Philips Soumokil, mengapresiasi langkah Polda Maluku yang turun langsung memberikan edukasi moral dan spiritual kepada siswa.
“Kami berterima kasih atas kepedulian Polda Maluku yang hadir memberikan bimbingan agar anak-anak tidak mudah terbawa arus kekerasan yang marak di kalangan remaja,” ujarnya.
Melalui gerakan “Stop Bullying, Stop Tawuran”, Polda Maluku berupaya menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menjadi pelopor perdamaian dan menjaga lingkungan sekolah yang aman, inklusif, serta bebas dari kekerasan.
