Ternate (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara (Malut) menyatakan, pembangunan jalan Trans Kieraha tidak hanya membuka konektivitas antar wilayah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan bagi petani dan ekonomi lokal.
"Petani di Halmahera Timur nantinya bisa menjual hasil panennya langsung ke Halmahera Tengah. Ini bagian dari strategi ketahanan pangan daerah yang berpihak pada petani dan nelayan," kata Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda dihubungi, Sabtu.
Menurut Gubernur, ruas Ekor–Kobe yang dibangun Pemerintah Provinsi Maluku Utara akan menjadi jalur logistik pangan utama, menghubungkan lumbung pertanian Halmahera Timur dengan kawasan industri PT Indonesia Weda Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah.
Kawasan industri IWIP saat ini mempekerjakan 80 ribuan pekerja dan membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar setiap bulan. Dengan terbukanya jalur Trans Kieraha, biaya logistik dapat ditekan dan nilai tukar petani diharapkan meningkat.
Selain itu, proyek ini telah memiliki studi kelayakan (FS) dan dokumen Amdal, yang telah diserahkan kepada TAPD dan Banggar DPRD Malut untuk pembahasan lebih lanjut.
Tahap awal pekerjaan pembukaan badan jalan telah dianggarkan Rp20 miliar dalam perubahan APBD 2025.
"Kami terbuka terhadap kritik dan masukan. Tujuannya hanya satu yakni memastikan setiap program benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat," tambah Sherly.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi berharap, dengan berfungsinya jalur Trans Kieraha, pertanian, perikanan, dan perdagangan antarwilayah bisa tumbuh beriringan.
Infrastruktur ini diharapkan menjadi jalan baru menuju kemandirian ekonomi masyarakat Trans Halmahera dan Maluku Utara secara keseluruhan.
