Ternate (ANTARA) - Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ternate, melaporkan sebuah longboat dilaporkan terbalik dan tenggelam saat melaut di perairan antara Pulau Batan Dua dan Kota Ternate, Maluku Utara, pada Rabu.
Kasubsie Operasi dan Siaga, F. Jofandri Rugebret, Basarnas Ternate, Rabu, menyampaikan bahwa setelah menerima informasi tersebut, tim rescue segera diberangkatkan menuju lokasi kejadian perkara (LKK).
“Tim Rescue Kantor SAR Ternate bersama unsur terkait telah bergerak menuju LKK menggunakan KN SAR 237 Pandudewanata untuk melakukan operasi pencarian terhadap korban hingga kini belum terindentifikasi,” jelas Rugebret.
Dalam operasi pencarian ini, sejumlah unsur turut dikerahkan, yakni Kantor SAR Ternate, BPBD Kota Tidore, serta pihak keluarga korban. Hingga berita ini diturunkan, identitas korban masih belum terkonfirmasi karena minimnya informasi yang diterima dari saksi awal.
Operasi SAR terus dilakukan dengan menyisir area sekitar rumpon dan titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi keberadaan korban. Kondisi cuaca serta situasi perairan di sekitar Batan Dua–Ternate juga menjadi perhatian tim di lapangan untuk memastikan keselamatan personel dan efektivitas pencarian.
Basarnas Ternate mengimbau masyarakat nelayan dan pengguna transportasi laut agar tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan memastikan kelengkapan keselamatan sebelum beraktivitas di laut. Pihak SAR juga meminta masyarakat yang memiliki informasi tambahan terkait keberadaan korban untuk segera melapor.
Insiden tersebut dilaporkan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Ternate oleh Fajri Ismail, rekan korban, setelah menerima kabar langsung dari korban melalui sambungan telepon.
Menurut keterangan yang diterima, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIT. Saat kejadian, korban tengah memancing di sekitar area rumpon. Secara tiba-tiba, longboat yang digunakan dikabarkan terbalik akibat kondisi yang belum diketahui secara pasti, hingga akhirnya tenggelam. Korban yang sempat tercebur ke laut berusaha menyelamatkan diri dengan berenang menuju salah satu rumpon terdekat.
Setelah mencapai rumpon, korban diketahui tidak mampu kembali ke desa asal karena tidak memiliki sarana transportasi dan kondisi perairan yang tidak memungkinkan untuk berenang lebih jauh. Dalam kondisi terjebak di tengah laut, korban kemudian menghubungi rekannya di desa untuk meminta pertolongan sebelum laporan resmi disampaikan ke pihak Basarnas Ternate.
