Ambon (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Maluku memberikan bantuan sebanyak 3.300 bibit tanaman rempah berupa 2.200 bibit pala dan 1.100 bibit cengkih kepada kelompok tani Saparua sebagai upaya memperkuat pengembangan komoditas unggulan daerah dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian di wilayah itu pada 2025.
“Pala dan cengkih adalah identitas sejarah Maluku sekaligus komoditas strategis yang memiliki pasar ekspor. Bantuan ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, menambah luas tanam, dan menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat petani,” kata Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa di Ambon, Selasa.
Menurutnya, cengkih dan pala memiliki arti penting bagi Maluku karena menjadi bagian dari identitas sejarah dan ekonomi masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Dua komoditas ini pernah menjadikan Maluku dikenal sebagai “Kepulauan Rempah” dan menjadi pusat perdagangan dunia, sehingga menorehkan jejak budaya yang masih melekat hingga kini.
Disamping itu, kata dia, secara ekonomi, cengkih dan pala memiliki nilai pasar yang stabil, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor, serta berpotensi besar dikembangkan melalui olahan turunan seperti minyak atsiri, bumbu masak, hingga produk kesehatan dan kecantikan yang bernilai jual tinggi.
Selain benih rempah, Pemprov Maluku juga menyalurkan berbagai program dukungan pertanian, meliputi peralatan pengolahan sagu dan gula aren, bibit tanaman pangan berupa 1.875 kilogram jagung hibrida, satu unit traktor roda empat.
Selain itu, bantuan hortikultura berupa 100 anakan alpukat, 200 anakan durian, 200 anakan mangga, 150 anakan rambutan, 12 sachet cabai rawit, 10 sachet sawi hijau, 15 sachet tomat, 20 sachet buncis, dan 12 rol mulsa plastik untuk tiga kelompok tani.
Ia mengatakan, bantuan ini merupakan bagian dari arah kebijakan Pemprov Maluku tahun anggaran 2025 yang berfokus pada pengembangan komoditas unggulan, transformasi pertanian modern, dan pembangunan rantai nilai (value chain) pertanian berbasis kawasan.
Hal itu juga sejalan dengan perencanaan Pemprov Maluku 2025 dan program prioritas pertanian, terdapat sejumlah langkah strategis, yakni peningkatan kapasitas produksi tanaman pangan dan hortikultura, melalui penyediaan bibit unggul, bantuan pupuk, dan alat mesin pertanian.
Hingga pengembangan riset dan edukasi pertanian berkelanjutan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas petani, serta digitalisasi rantai distribusi pertanian.
Ia menegaskan, seluruh intervensi dan bantuan yang disalurkan bertujuan memastikan petani tidak hanya fokus pada produksi, tetapi memiliki akses pembelajaran, alat pengolahan, dan peluang pemasaran yang lebih luas.
“Dengan penguatan dari hulu hingga hilir, kita ingin petani Maluku tidak sekadar menanam, tetapi memperoleh nilai tambah ekonomi dan posisi tawar yang lebih baik,” katanya.
