Ambon (ANTARA) - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX menghadirkan festival Benteng Duurstede 2025 di pulau Saparua, kabupaten Maluku Tengah sebagai upaya merawat peradaban.
"Festival benteng Duurstede menandai babak baru fungsi benteng pertahanan abad ke-17, yang kini berhasil difungsikan kembali dari sekadar monumen sejarah menjadi ruang publik dan pusat ekspresi kebudayaan," kata Kepala BPK wilayah XX, Dody Wiranto di Ambon, Jumat
Festival Benteng Duurstede 2025 dengan tema Cagar Budaya dan Ruang Ekspresi, Merawat Tradisi, Menjaga Budaya", diinisiasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam merawat peradaban.
Ia mengatakan, festival benteng Duurstede dirancang bukan sebagai acara seremonial semata, melainkan pemicu untuk menjadikan Benteng Duurstede sebagai pusat kegiatan kebudayaan tahunan di Maluku.
Keterlibatan sanggar seni dari Pulau-pulau Lease sebagai strategi BPK Wilayah XX membangun ekosistem pelestarian cagar budaya yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam memandang situs sejarah.
Ia menyebut, Saparua sebagai Pulau Kemenangan mengingat sejarah kesuksesan Kapitan Pattimura di lokasi tersebut dan menekankan agar benteng yang telah dipugar tidak kembali menjadi monumen mati.
Ia menginstruksikan BPK Wilayah XX dan pemerintah daerah terus mendorong konsep edukasi berbasis situs atau outing class, agar siswa dapat belajar sejarah, kimia mengenai material benteng, hingga seni budaya secara langsung di lokasi.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, menyambut positif inisiatif ini dan menegaskan komitmen Pemkab Maluku Tengah untuk terus bersinergi menjaga warisan dunia tersebut.
Kasubbag Umum BPK Wilayah XX, Stenli R. Loupatty, menyatakan harapan agar kolaborasi BPK Wilayah XX bersama Pemkab Maluku Tengah, Kecamatan, Polsek, hingga Koramil Saparua dapat berlanjut ke acara dengan skala yang lebih besar.
“Kami berharap Benteng Duurstede tidak hanya dipandang sebagai monumen mati, tetapi bisa hidup, menjelma menjadi ruang publik yang ramah, serta menjadi kebanggaan masyarakat Saparua dan Maluku,” ujarnya.
Kegiatan tersebut, BPK Wilayah XX memutar film dokumenter pendek terkait proses pemugaran Benteng Duurstede. Langkah ini dilakukan untuk menegaskan kepada publik bahwa pemugaran fisik dilakukan demi menyelamatkan benteng dari kerusakan struktural lebih jauh serta menciptakan ruang publik yang aman dan bermartabat.
Rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan sertifikat HKI (Hak Kekayaaan Intelektual) Gula Merah Saparua, Baileo dan Upacara Obor Pattimura oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Maluku, Syaiful Sahri, kepada Kepala BPK Wilayah XX, dan Bupati Maluku Tengah.
Suasana benteng berubah menjadi pesta rakyat saat sanggar seni budaya yang ada di Pulau Saparua, Nuslaut dan Haruku tampil memukau, disusul aksi panggung musisi lokal Tesya dan Lexy, serta penampilan puncak, Chaken Supusepa yang sukses membuat ratusan masyarakat bernyanyi bersama.
