Ambon (ANTARA) - Prajurit Kodam XV/Pattimura melalui Satgas Yonif 732/Banau memfasilitasi proses reintegrasi lima warga yang sebelumnya tergabung dalam Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Distrik Beoga Barat, Kabupaten Puncak, Papua.
Kapendam Pattimura Kolonel Infanteri Hery Krisdianto, mewakili Pangdam XV/Pattimura, di Ambon, Senin, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan bukti efektivitas pendekatan humanis yang selama ini dikedepankan oleh prajurit TNI di daerah penugasan.
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya keberhasilan Satgas Yonif 732/Banau di Distrik Beoga Barat. Kembalinya lima warga binaan ke pangkuan NKRI merupakan bukti nyata bahwa pendekatan humanis dan persuasif mampu membangun kepercayaan masyarakat,” ujar dia.
Ia menjelaskan pendekatan teritorial dilakukan melalui berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, seperti pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta kegiatan sosial kemasyarakatan yang berkelanjutan.
Menurut Hery, Pangdam XV/Pattimura telah menginstruksikan seluruh jajaran satuan tugas untuk terus memperkuat pola pendekatan dialogis dan kekeluargaan dalam setiap interaksi dengan masyarakat.
“Pangdam menekankan bahwa kehadiran TNI harus menjadi solusi dan pelindung bagi masyarakat, dengan memberikan rasa aman, sehingga saudara-saudara kita yang masih berseberangan tidak ragu untuk kembali dan bersama-sama membangun Papua dalam bingkai Ibu Pertiwi,” katanya.
Sebelumnya, lima pemuda asal Papua mendatangi Titik Kuat Jampul Satgas Yonif 732/Banau di Kampung Jampul, Distrik Beoga Barat, untuk menyatakan komitmen kembali ke NKRI. Mereka datang didampingi kepala suku setempat sebagai bentuk dukungan masyarakat adat.
Kelima warga tersebut merupakan bagian dari kelompok yang sebelumnya terpengaruh aktivitas KKB dan memutuskan kembali setelah melalui proses komunikasi intensif yang dilakukan Satgas Yonif 732/Banau bersama tokoh masyarakat setempat.
“Satgas Yonif 732/Banau selama ini aktif melaksanakan program teritorial, di antaranya pelayanan kesehatan dari rumah ke rumah, pembelian hasil tani masyarakat, pembagian kebutuhan pokok, serta kegiatan sosial lainnya yang bertujuan membangun kepercayaan dan mempererat hubungan dengan warga,” ujarnya.
Proses reintegrasi selanjutnya akan dilakukan secara bertahap melalui pendampingan, jaminan keamanan, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat agar para warga binaan dapat kembali menjalani kehidupan sosial secara normal dan produktif.
Menurut Kolonel Hery, keberhasilan tersebut diharapkan dapat memperkuat perdamaian dan stabilitas keamanan di wilayah Pegunungan Tengah Papua serta mendorong masyarakat untuk menolak kekerasan dan memilih jalan dialog demi masa depan Papua yang aman dan sejahtera.
