Ambon (ANTARA) -
Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku memperkuat sistem pertanian daerah untuk meningkatkan produksi beras di wilayah tersebut.
“Peningkatan produksi tidak terlepas dari sinergisitas berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, instansi teknis, penyuluh, hingga petani. Kolaborasi ini dilakukan untuk memperluas areal tanam, meningkatkan produktivitas, dan mendorong penerapan teknologi pertanian yang lebih baik,” kata Kepala BRMP Maluku Gunawan, di Ambon, Sabtu.
Upaya itu ditandai dengan kenaikan proyeksi produksi beras 2025 yang diperkirakan mencapai 57,55 ribu ton. Jumlah tersebut naik 6,52 ribu ton atau sekitar 12,78 persen dibandingkan produksi 2024 yang tercatat 51,03 ribu ton beras.
BRMP Maluku menyebutkan penguatan sistem pertanian terus dilakukan melalui perbaikan infrastruktur, penyediaan sarana produksi, hingga pendampingan di lapangan guna memastikan program peningkatan produksi berjalan optimal.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan budidaya padi modern seperti penggunaan benih unggul, pengelolaan air irigasi, serta manajemen hama terpadu. Program ini ditujukan agar petani mampu beradaptasi dengan perubahan musim dan ancaman gagal panen.
Implementasi teknologi pertanian digital turut dipacu, termasuk pemanfaatan alat deteksi cuaca, pengukuran kadar air lahan, dan sistem informasi tanam. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu petani mengambil keputusan produksi yang lebih akurat dan efisien.
“Kami juga sedang menunggu pusat mengeluarkan target luas tambah tanam untuk tahun ini. Kita tentunya terus berupaya untuk meningkatkan pertanian di Maluku,” ucapnya.
BRMP Maluku menyatakan pemantauan lapangan secara berkala juga menjadi bagian dari strategi penguatan. Petugas penyuluh ditugaskan mengawasi perkembangan pertanaman di sentra produksi untuk mengidentifikasi potensi masalah sejak dini.
Pemerintah berharap peningkatan produksi beras pada 2025 dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan Maluku serta menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah. Dalam jangka panjang, keberhasilan program ini ditargetkan mampu mendorong Maluku menjadi salah satu pusat produksi pangan di kawasan timur Indonesia.
