Ambon (ANTARA) -
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Masyarakat Desa (DP3AMD) Kota Ambon, Maluku, terus memperkuat program sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak sebagai upaya menekan angka kasus di wilayah setempat yang masih fluktuatif dalam tiga tahun terakhir.
“Sosialisasi dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik di lingkungan sekolah maupun melalui jalur keagamaan,” kata Kepala DP3AMD Kota Ambon Meggy M. Lekatompessy, di Ambon, Selasa.
Selain sosialisasi, DP3AMD juga melakukan penguatan sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga pendidik di sekolah. Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan peningkatan kapasitas, termasuk manajemen penanganan kasus kekerasan anak yang terjadi di lingkungan sekolah.
“Di sekolah sudah ada tim pencegahan dan penanganan kasus. Kami perkuat agar mereka tahu bagaimana melakukan pencegahan sekaligus penanganan yang sesuai prosedur,” ujarnya.
Menurut dia, peningkatan kapasitas SDM ini tidak hanya bertujuan untuk mencegah terjadinya kekerasan, tetapi juga memastikan setiap kasus yang muncul dapat ditangani secara tepat dan berpihak pada kepentingan terbaik anak. DP3AMD juga secara aktif melakukan pendampingan.
“Semua kasus yang dilaporkan ditangani dan didampingi oleh DP3AMD, mulai dari pendampingan psikologis hingga koordinasi lintas sektor,” katanya menambahkan.
Berdasarkan data DP3AMD Kota Ambon, jumlah kasus kekerasan terhadap anak pada 2023 tercatat sebanyak 82 kasus, menurun menjadi 73 kasus pada 2024, namun kembali meningkat menjadi 81 kasus pada 2025.
Pada 2025, kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur tercatat 31 kasus, sementara itu, kasus kekerasan terhadap anak tercatat 25 kasus pada 2025, dan kasus pencabulan anak juga masih cukup tinggi dengan 20 kasus pada 2025.
Selain kekerasan terhadap anak, data DP3AMD juga menunjukkan kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Ambon cenderung meningkat. Pada 2023 tercatat 54 kasus, naik menjadi 56 kasus pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 59 kasus pada 2025. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual masih mendominasi laporan yang masuk.
DP3AMD berharap perluasan sosialisasi dan penguatan kapasitas SDM ini dapat menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di 2026, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaporkan setiap bentuk kekerasan yang terjadi.
Pewarta: Winda HermanEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.