Ambon (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Maluku memasukkan pendidikan toleransi dan nilai-nilai perdamaian ke dalam kurikulum sebagai upaya membangun karakter peserta didik yang berjiwa inklusif dan saling menghargai sejak usia dini.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, di Ambon, Rabu, mengatakan kebijakan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku dalam rangka memperkuat toleransi di ranah pendidikan.
“Kami berterima kasih atas inisiasi berbagai pihak yang bersama-sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku berupaya membangun toleransi dalam konteks pendidikan,” ujar dia.
Ia mengakui bahwa saat ini penerapan pendidikan toleransi masih terbatas pada sekolah-sekolah dengan komunitas yang sama, yakni sekolah Muslim di bawah Yayasan Sombar dan sekolah Kristen di bawah Yayasan Sitanala.
Meski demikian, pihaknya sepakat bahwa masa anak-anak harus diisi dengan hal-hal positif yang membantu membentuk karakter damai dan berjiwa toleran. Karena itu, pendidikan toleransi disisipkan dalam kurikulum melalui program pendidikan damai yang terus dikembangkan.
Menurut dia, dalam implementasinya para siswa diajarkan oleh guru agama untuk memahami dan menghargai orang lain yang memiliki latar belakang berbeda, meskipun berada dalam lingkungan sekolah dengan komunitas seagama.
Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku juga bekerja sama dengan Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam membangun sekolah damai di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Hunuth, Kota Ambon, yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Kementerian Agama.
“Dari sekolah damai tersebut kami melakukan monitoring terhadap perilaku anak-anak yang mendapatkan pembelajaran toleransi secara berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan perilaku yang baik dan kemampuan memahami teman sebayanya sebagai komunitas yang berbeda namun tetap bersaudara,” jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu program unggulan yang diterapkan adalah pembiasaan Membaca Tuntas Al Quran bagi siswa Muslim dan Membaca Tuntas Al Kitab bagi siswa Kristen atau Meta yang dilakukan setiap pagi sebelum proses belajar mengajar dimulai.
Dirinya menilai ruang pendidikan akan terasa sempit apabila anak-anak hanya dibangun melalui pemahaman keyakinan pribadi tanpa adanya pembauran dan pemahaman terhadap keberagaman di sekitarnya.
Sejalan dengan itu, pihaknya juga mengaitkan program tersebut dengan semangat Asta Cita yang menekankan moderasi beragama yang nyaman dan inklusif.
“Oleh sebab itu, kami menggiring mimpi Asta Cita melalui program literasi keagamaan lintas budaya (LKLB) yang digagas Institut Leimena untuk menegaskan bahwa perdamaian itu indah dan harus ditanamkan sejak dini,” tutupnya.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026