Ternate (ANTARA) - Perwakilan Kementerian Keuangan Republik Indonesia Provinsi Maluku Utara (Malut) mencatat ekonomi Malut tumbuh impresif 29,81 persen pada triwulan IV 2025 didorong oleh industri pengolahan dan sektor pertambangan.
"Pertumbuhan tinggi tersebut didorong ekspansi sektor industri pengolahan dan pertambangan, terutama melalui hilirisasi logam," kata Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Malut Sakop dihubungi di Ternate, Kamis.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut turut diiringi stabilitas makro yang terjaga kendati inflasi Januari 2026 tercatat sebesar 4,86 persen.
Ia menilai, kondisi ini perlu diwaspadai, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadhan, yang secara musiman meningkatkan permintaan barang dan berpotensi mendorong kenaikan harga.
"Pencapaian pertumbuhan ekonomi ini turut diiringi perbaikan indikator kesejahteraan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Maluku Utara naik menjadi 72,52, sementara angka kemiskinan turun menjadi 5,59 persen. Namun, pertumbuhan yang tinggi ini belum sepenuhnya inklusif," ujar Sakop.
Dalam paparannya, Sakop menyoroti dinamika global yang turut mempengaruhi perekonomian nasional, termasuk meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu volatilitas harga komoditas strategis seperti emas dan minyak dunia.
"Meski demikian, ekonomi domestik dinilai tetap resilien," kata dia.
Ia menjelaskan, sejumlah tantangan yang masih perlu mendapat perhatian, di antaranya tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,44 persen, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) yang meski naik 0,44 persen namun masih relatif rendah, serta penurunan nilai tukar petani (NTP) menjadi 101,81 dan nilai tukar nelayan (NTN) menjadi 102,67.
"Di sisi lain, rasio gini membaik ke angka 0,275, menunjukkan kesenjangan kesejahteraan yang semakin menyempit. Kondisi ini menegaskan perlunya diversifikasi struktur ekonomi agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," ujarnya.
Dari sisi fiskal, kinerja APBN regional hingga akhir Januari 2026 menunjukkan tren positif. Pendapatan negara mencapai Rp268,36 miliar atau 4,44 persen dari pagu, tumbuh 17,40 persen.
"Kontribusi utama berasal dari penerimaan PPN dan PPnBM sebesar Rp129,64 miliar, tumbuh signifikan 193,41 persen," katanya.
Ia menambahkan secara sektoral, transportasi dan pergudangan menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak dalam negeri dengan kontribusi 38,43 persen. Dari sisi perpajakan internasional, penerimaan bea masuk tercatat Rp38,86 miliar, didorong peningkatan impor belerang.
Sebelumnya, Gubernur Malut Sherly Tjoanda mengatakan di balik capaian tersebut masih adanya persoalan mendasar yang perlu dibenahi bersama, terutama di sektor kemiskinan, pendidikan, dan ketepatan data sosial.
Pewarta: Abdul FatahEditor : Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.