Ternate (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Maluku Utara memproyeksikan kebutuhan uang kartal selama periode Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI) 2026 mencapai Rp933 miliar atau meningkat 25 persen dibanding periode sebelumnya.
Kepala Kantor Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila di Ternate, Rabu, mengatakan tren positif pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa mudik menjadi faktor utama kenaikan permintaan uang layak edar (ULE).
"Prediksi kebutuhan selama periode RAFI naik menjadi Rp933 miliar. Kami berkomitmen menjamin ketersediaan uang bagi masyarakat di seluruh wilayah Maluku Utara,” ujar Handi.
Tingginya kebutuhan tersebut mulai terlihat dari antusias ratusan warga yang memadati layanan penukaran uang terpadu di Gedung Dhuafa Center, Ternate.
Secara keseluruhan, kebutuhan uang tahunan di Maluku Utara diperkirakan mencapai Rp3,7 triliun atau tumbuh 12 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, secara nasional Bank Indonesia menyiapkan likuiditas sebesar Rp185,6 triliun melalui Program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026.
Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan layanan, BI menerapkan sistem registrasi daring melalui aplikasi PINTAR.
Masyarakat diwajibkan membawa KTP asli serta bukti pemesanan saat melakukan penukaran di lokasi yang telah ditentukan.
Pada tahun ini, BI juga meningkatkan batas maksimal paket penukaran menjadi Rp5.300.000 per orang, dengan pecahan mulai dari Rp1.000 hingga Rp50.000.
Salah satu warga Bastiong, Sri Maryani mengaku sengaja menukar uang lebih awal sebesar Rp1,5 juta guna menghindari antrean panjang menjelang Lebaran.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat, BI Maluku Utara menyediakan 70 titik layanan penukaran yang tersebar di seluruh wilayah.
Adapun jadwal lanjutan setelah layanan di Dhuafa Center pada 3–6 Maret, yakni 9–12 Maret 2026: Kas Keliling Tematik “Jelajah Pulau” menjangkau wilayah Tidore dan Sofifi.
Untuk 10 Maret 2026: Layanan Ritel Tahap II tersedia di perbankan wilayah Ternate, Labuha, Tobelo dan Weda.
Selain memastikan ketersediaan uang tunai, BI juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan transaksi digital seperti QRIS dan BI-FAST demi keamanan dan kemudahan bertransaksi.
Masyarakat juga diingatkan untuk merawat uang rupiah dengan prinsip 5J, yakni tidak dilipat, dicoret, diremas, distapler, maupun dibasahi, serta tetap waspada terhadap potensi peredaran uang palsu.
Pewarta: Abdul FatahEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.