Ambon, Maluku (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku berkolaborasi dengan pengekspor komoditas unggulan daerah dalam menghadapi dampak dinamika geopolitik global.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Maluku Achmad Jais Ely di Ambon, Maluku, Jumat, mengatakan kolaborasi antara pemerintah dan pengekspor menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan ekspor di tengah tekanan global.

"Hal ini menjadi komitmen bersama untuk menjaga hulu dan hilir rantai pasok. Kita minta peran seluruh pihak terutama eksportir untuk berkoordinasi dengan kami, apa yang bisa kami bantu, kami upayakan. Kolaborasi yang saling menguntungkan ini bertujuan untuk kebaikan Maluku," kata dia.

Ia menjelaskan sepanjang 2025, Provinsi Maluku telah melaksanakan ekspor sebanyak 594 kali yang didominasi oleh komoditas nonmigas.

Sementara itu, pada periode Januari hingga Maret 2026, realisasi ekspor langsung tercatat sebanyak 81 kali.

Menurut dia, dinamika geopolitik global memberikan sejumlah dampak terhadap aktivitas ekspor daerah, di antaranya peningkatan ongkos ekspor, risiko keterlambatan produk perikanan segar, serta kecenderungan pembeli yang semakin selektif terhadap kualitas dan legalitas produk.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemprov Maluku melakukan diversifikasi pasar ekspor dengan menjajaki peluang pengiriman langsung ke negara tujuan, terutama untuk komoditas unggulan sektor perikanan seperti gurita (Octopus vulgaris) beku dan tuna.

Langkah ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan pada pasar utama seperti Tiongkok.

Selain itu, kerja sama dengan sektor swasta diperkuat melalui kemitraan dengan eksportir guna meningkatkan volume dan daya saing ekspor.

Upaya ini juga didukung oleh tim percepatan ekspor yang melibatkan berbagai instansi, antara lain Disperindag, Dinas Kelautan dan Perikanan, Balai Karantina Ambon, serta Bea Cukai Ambon, untuk memberikan pendampingan kepada eksportir lokal.

Pada awal 2026, capaian ekspor Maluku menunjukkan tren positif dengan pengiriman perdana komoditas tuna ke Jepang serta ikan kerapu hidup ke Hong Kong dari wilayah Tual.

"Diharapkan langkah strategis ini turut mendapat dukungan dari pemerintah pusat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha lokal di tengah ketidakpastian ekonomi global," sebutnya.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026