Ternate (ANTARA) - Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Maluku Utara bekerja sama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Serba Usaha menggelar pelatihan kompetensi bagi penyandang disabilitas di Kota Ternate.
Mentor pelatihan Disnakertrans Maluku Utara (Malut) Nurjannah di Ternate, Selasa, menjelaskan materi yang diberikan difokuskan pada keterampilan dasar menjahit, mulai dari pengukuran hingga pembuatan pola.
"Kami dipercaya untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat rentan agar bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja maupun menjadi tenaga kerja mandiri," ujarnya.
Pelatihan yang berlangsung sejak 13 hingga 16 April 2026 ini diikuti oleh 10 peserta dari kelompok rentan, termasuk difabel fisik, penyandang bisu tuli, serta Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OPMK). Kegiatan ini merupakan bagian dari program peningkatan produktivitas tenaga kerja berbasis inklusi.
Menurutnya, durasi pelatihan yang hanya berlangsung selama beberapa hari masih belum cukup untuk membentuk keterampilan menjahit yang matang. Ia menyebutkan untuk tingkat dasar saja, pelatihan menjahit umumnya membutuhkan waktu minimal tiga bulan.
"Namun dalam waktu singkat ini kami tetap berupaya maksimal agar peserta bisa langsung mempraktikkan keterampilan yang diperoleh," katanya.
Keterampilan tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat langsung dimanfaatkan oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuka jasa perbaikan pakaian sederhana yang memiliki peluang pasar di masyarakat.
Meski demikian Nurjannah menilai pelatihan semacam ini perlu didukung dengan program lanjutan agar mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar terampil dan siap bersaing.
"Kalau ingin menciptakan SDM unggul, pelatihan harus dilakukan secara total. Ini juga menjadi aset daerah, apalagi kita belum memiliki industri besar," ujarnya.
Salah satu peserta, Nisma Taher mengaku pelatihan tersebut memberikan ruang bagi kelompok yang selama ini kerap menghadapi stigma sosial. "Dengan keterbatasan kami, ini sangat membantu. Kami jadi lebih produktif dan bisa membantu ekonomi keluarga," katanya.
Nisma yang pernah mengalami kusta juga menyebut pelatihan ini memberikan dorongan mental untuk keluar dari rasa minder akibat stigma masyarakat.
Ia berharap pemerintah dapat memperpanjang durasi pelatihan serta menyediakan dukungan lanjutan, seperti bantuan alat kerja.
"Kalau waktunya lebih lama dan ada pelatihan lanjutan, kami bisa lebih berkembang," ujarnya.
Peserta lainnya, Julaeha Abdullah menekankan pentingnya keberlanjutan program. Menurutnya, tanpa dukungan alat dan pendampingan, keterampilan yang telah diperoleh berpotensi tidak berkembang.
"Kalau tidak ada alat pendukung, peserta bisa kembali ke kondisi semula. Padahal mereka sudah punya keterampilan," katanya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menggelar pelatihan, tetapi juga melakukan pemantauan dan pendampingan secara berkelanjutan hingga peserta benar-benar mandiri.
"Harus ada monitoring berkelanjutan, supaya mereka bisa berkembang dan bahkan membantu teman-teman disabilitas lainnya," ujar Julaeha Abdullah.
Pewarta: Abdul FatahUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026