Ambon (ANTARA) -

Kepolisian Daerah Maluku menggandeng ibu-ibu rumah tangga dari sejumlah desa di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, untuk memperkuat upaya pencegahan konflik sosial, seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap peredaran minuman keras, narkoba, dan tingginya pengangguran di kalangan pemuda.

"Pentingnya peran keluarga, khususnya ibu-ibu, dalam membangun pola komunikasi yang baik dengan anak-anak sebagai langkah pencegahan sejak dini terhadap potensi konflik,” kata Kapolda Maluku Inspektur Jenderal Polisi Dadang Hartanto di Ambon, Selasa.

Hal tersebut mengemuka dalam audiensi antara Kapolda dan perwakilan ibu-ibu dari lima desa di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, yang berlangsung di Ruang Courtesy Call Mapolda Maluku.

Kapolda mengatakan bahwa konflik sosial tidak semata dipicu minuman keras dan narkoba. "Minuman keras dan narkoba itu pemicu, tetapi akar utamanya adalah ego kelompok dan lemahnya kepatuhan terhadap norma dan hukum," ujarnya.

Ia mengatakan lemahnya kontrol sosial di masyarakat turut memperparah situasi, saat persoalan kecil kerap berkembang menjadi konflik besar karena tidak adanya mekanisme penyelesaian yang efektif.

Polda Maluku menyatakan akan mengedepankan pendekatan persuasif berbasis kemitraan dengan masyarakat, namun tetap melakukan penindakan tegas terhadap pelaku pelanggaran hukum, khususnya terkait minuman keras dan narkoba.

Dalam pertemuan itu, warga dari Desa Mamala, Morela, Hitu Lama, Hitumesing, dan Wakal secara terbuka menyampaikan keresahan mereka. Peredaran minuman keras dan narkoba semakin marak dan kerap menjadi pemicu bentrokan antarwarga.

"Kalau tidak ditangani serius, ini bisa terus memicu konflik," ujar salah satu perwakilan ibu-ibu dalam audiensi tersebut.

Selain itu, minimnya lapangan kerja bagi pemuda turut disoroti sebagai faktor yang memperbesar risiko keterlibatan generasi muda dalam aktivitas negatif, termasuk konsumsi minuman keras dan tindak kekerasan.

Dalam audiensi tersebut, warga mendorong adanya kolaborasi yang lebih konkret antara kepolisian dan masyarakat, salah satunya melalui pembentukan "Mama-Mama Sahabat Polisi" sebagai wadah komunikasi dan deteksi dini konflik di tingkat akar rumput.

Pertemuan ini menegaskan bahwa persoalan keamanan di wilayah Leihitu berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, lanjut Kapolda, penanganan konflik perlu dilakukan secara komprehensif melalui sinergi antara aparat, keluarga, dan komunitas.



Pewarta: Winda Herman
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026