Ambon (ANTARA) - Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Maluku Dr. Edi Setiawan menegaskan keluarga yang sehat, berkualitas, dan berdaya menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

"Kalau kita ingin mewujudkan Indonesia yang berdaulat, maju, adil, dan makmur, maka syarat utamanya adalah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Dan tugas itu tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi dimulai dari keluarga," kata Edi Setiawan di Ambon, Selasa.

Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak sehingga peran orang tua sangat menentukan pembentukan karakter, pola pikir, dan masa depan generasi penerus bangsa.

Ia mengatakan keberhasilan pembangunan SDM menuju Indonesia Emas 2045 tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), yang selama ini aktif melakukan edukasi dan pendampingan kepada keluarga di masyarakat.

"Kalau kami di kementerian merancang program, maka yang mengimplementasikan langsung di lapangan adalah kader-kader PKK. Karena itu, peran PKK sangat luar biasa dalam menyiapkan generasi Indonesia Emas," ujarnya.

Dirinya menjelaskan Kemendukbangga/BKKBN berperan sebagai penggerak kebijakan, integrator program pembangunan keluarga, serta penyedia data kependudukan melalui Pendataan Keluarga yang menjadi dasar pelaksanaan berbagai program.

"Seluruh keluarga yang terdata menjadi target layanan dan edukasi yang harus kita sentuh bersama. Karena fokus kita sama, yaitu keluarga," katanya.

Selain itu, Edi mengungkapkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) menunjukkan jumlah penduduk Maluku mencapai sekitar 1,97 juta jiwa dengan komposisi terbesar berasal dari Generasi Z.

Kondisi tersebut, menurut dia, menghadirkan tantangan baru dalam pola pengasuhan anak, terutama terkait penggunaan gawai yang semakin dominan dalam kehidupan keluarga.

Karena itu, ia mendorong adanya pembatasan penggunaan gawai pada waktu tertentu di lingkungan keluarga guna meningkatkan kualitas komunikasi dan interaksi antara orang tua dan anak.

Edi juga menyoroti angka Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksi di Maluku yang masih berada pada angka 2,44, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 2,18.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa program Keluarga Berencana (KB) masih menjadi instrumen penting untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk sekaligus meningkatkan kualitas keluarga.

"Program KB di Maluku memang berjalan baik, tetapi angka kelahiran masih relatif tinggi. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk kader PKK," katanya.

Edi juga mengapresiasi capaian Provinsi Maluku yang baru meraih penghargaan tingkat nasional dalam pelaksanaan pelayanan KB serentak dalam rangka Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, Kemendukbangga/BKKBN, dan Tim Penggerak PKK terus diperkuat untuk membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan berkualitas sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026