Ambon (ANTARA) -
PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ambon, Maluku, memperkuat konektivitas layanan penyeberangan antarpulau di Maluku guna mendukung mobilitas masyarakat serta kelancaran distribusi logistik di berbagai wilayah.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ambon Syamsuddin Tanassy, di Ambon, Rabu, mengatakan saat ini, layanan penyeberangan selama 24 jam saat ini diberlakukan pada lintasan Hunimua-Waipirit yang menghubungkan Pulau Ambon dan Pulau Seram sebagai salah satu upaya kelancaran logistik ke daerah.
“Kami 24 jam hanya berlaku di lintasan Hunimua-Waipirit karena jaraknya sekitar 11,5 mil. Lintasan ini menghubungkan Pulau Ambon dengan Pulau Seram yang di dalamnya terdapat tiga kabupaten sehingga aktivitas penumpang dan logistik cukup besar dan padat,” katanya.
Untuk layanan penyeberangan menuju Pulau Buru, ASDP saat ini mengoperasikan kapal dengan jadwal keberangkatan setiap dua hari sekali dari Pelabuhan Galala menuju Namlea.
“Untuk Pulau Buru, kapal berangkat setiap dua hari sekali dengan jadwal keberangkatan pukul 20.00 WIT menuju Namlea. Selain itu ada juga kapal yang beroperasi dari Pelabuhan Slamet Riyadi,” ujarnya.
Ia menjelaskan frekuensi layanan pada lintasan Galala-Namlea berpotensi meningkat apabila Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tatihu milik Pemerintah Kabupaten Buru yang dikelola Perumda Panca Karya kembali beroperasi.
“Apabila KMP Tatihu siap masuk lintasan, maka rute Galala-Namlea dapat beroperasi setiap hari sehingga pelayanan kepada masyarakat dan distribusi logistik menjadi lebih optimal,” katanya.
Sementara itu, di wilayah Maluku Tenggara, ASDP mengoperasikan tiga kapal yang melayani sejumlah lintasan dengan tingkat mobilitas yang tinggi.
“Di Maluku Tenggara kami memiliki tiga kapal dengan frekuensi pelayaran yang cukup padat dan selalu beroperasi untuk melayani kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, ASDP tetap mengutamakan aspek keselamatan pelayaran, terutama saat menghadapi kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
Menurutnya, setiap keputusan keberangkatan kapal selalu mengacu pada informasi dan rekomendasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Apabila terjadi cuaca buruk, kami selalu berpedoman pada informasi BMKG dan berkoordinasi dengan UPP maupun KSOP. Jika kondisi cuaca dinilai membahayakan keselamatan pelayaran, keberangkatan akan ditunda sampai cuaca kembali membaik,” ucapnya.
Dengan optimalisasi layanan penyeberangan, menjadi salah satu upaya ASDP untuk menjaga konektivitas antarwilayah kepulauan di Maluku, sekaligus memastikan distribusi barang kebutuhan pokok, hasil perikanan, dan komoditas lainnya tetap berjalan lancar guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Pewarta: Winda HermanEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.