Ambon (ANTARA) - Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) menyebut digitalisasi pertandingan melalui penerapan sistem penilaian digital (digital scoring) penting bagi atlet pencak silat Maluku untuk meningkatkan daya saing pada ajang nasional.
Chief of Referee and Jury Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) Titih Hayati di Ambon, Minggu, mengatakan penerapan digital scoring menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dipenuhi jika Maluku ingin meningkatkan prestasi pencak silat.
"Kami datang ke sini pertama untuk memberikan sosialisasi mengenai peraturan baru. Kedua, kami berharap pencak silat di Provinsi Maluku bisa lebih maju dan berkembang," katanya.
Menurut Titih, kemajuan pencak silat suatu daerah saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas fisik atlet, tetapi juga harus ditunjang dengan fasilitas dan pemahaman teknologi pertandingan yang memadai.
Ia menjelaskan penggunaan digital scoring bukan sekadar alat penilaian, melainkan sarana yang membantu atlet, pelatih, wasit, dan juri memahami jalannya pertandingan secara lebih terbuka dan objektif.
"Dengan penilaian yang lebih terbuka, atlet bisa menyusun strategi. Mereka bisa mengetahui posisi nilai, memahami pelanggaran yang dilakukan, dan menentukan langkah yang harus diambil selama pertandingan," ujarnya.
Titih menilai keterbatasan penggunaan sistem digital di daerah dapat menjadi hambatan ketika atlet bertanding di tingkat nasional karena belum terbiasa memanfaatkan informasi yang tersedia melalui sistem tersebut.
"Mungkin sekarang belum terasa, tetapi ketika masuk ke level nasional akan sangat terasa. Atlet yang tidak terbiasa dengan digital scoring bisa tertinggal karena lawannya sudah memahami cara memanfaatkan sistem itu untuk strategi pertandingan," katanya.
Ia mencontohkan hasil Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) sebelumnya yang menunjukkan sejumlah daerah gagal lolos, termasuk Maluku, dan sebagian besar merupakan daerah yang belum memiliki fasilitas digital scoring sehingga masih menggunakan sistem penilaian manual.
"Tahun lalu ada beberapa daerah yang tidak lolos Pra-PON dan kebanyakan merupakan daerah yang belum memiliki digital scoring. Penilaiannya masih manual," ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan peningkatan prestasi membutuhkan komitmen dan investasi dalam penyediaan sarana pendukung pertandingan.
"Kalau ingin ada peningkatan prestasi, harus ada pengorbanan. Tidak ada peningkatan yang datang begitu saja. Harus ada biaya yang dikeluarkan untuk perlengkapan dan fasilitas penunjang prestasi," katanya.
Titih menambahkan sejumlah provinsi yang sebelumnya mengalami kendala serupa kini mulai melakukan perbaikan dengan melengkapi fasilitas digital scoring untuk pertandingan maupun latihan.
Ia mendorong pengurus pencak silat di daerah untuk mencari berbagai sumber pendanaan, termasuk memanfaatkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun dukungan badan usaha milik negara (BUMN), guna mempercepat pemenuhan kebutuhan tersebut.
Menurut dia, peluang mendapatkan dukungan cukup terbuka mengingat pencak silat saat ini semakin mendapat perhatian luas dan memiliki daya tarik bagi berbagai pihak untuk menjadi sponsor.
"Dari pengalaman beberapa daerah, fasilitas digital scoring bisa diupayakan secara bertahap. Yang penting atlet dan perangkat pertandingan mulai dibiasakan menggunakan sistem tersebut agar tidak tertinggal saat tampil di level nasional," demikian Titih Hayati.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.