Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, menilai hilirisasi industri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan Indonesia.
Esther Sri Astuti dihubungi di Jakarta, Senin menyampaikan, melalui pengolahan komoditas menjadi produk antara maupun produk akhir, Indonesia berpeluang memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing di pasar domestik dan global.
Esther mengatakan konsep hilirisasi sangat relevan diterapkan pada berbagai komoditas perkebunan seperti kopi dan kakao.
Menurutnya, pengolahan komoditas tersebut menjadi produk intermediate maupun produk final akan meningkatkan nilai jual produk dibandingkan hanya mengekspor bahan mentah.
"Saya sepakat dengan konsep hilirisasi industri untuk komoditas perkebunan karena dengan hilirisasi komoditas kopi, coklat dan lain-lain, bisa diolah menjadi produk intermediate bahkan produk final sehingga harganya pun bisa lebih mahal di pasar," ujarnya.
Meski demikian, Esther menekankan bahwa hilirisasi tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan nilai tambah ekonomi. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan, hilirisasi industri perlu mempertimbangkan tiga aspek utama, yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain meningkatkan harga dan nilai tambah produk, hilirisasi juga harus mampu menciptakan lapangan kerja, membantu pengentasan kemiskinan, serta menghindari dampak negatif terhadap lingkungan.
"Artinya hilirisasi industri tidak hanya concern pada nilai tambah dan harga produk yang lebih mahal tetapi hilirisasi industri juga harus memberikan benefit pada lingkungan sosial, penciptaan lapangan pekerjaan, pengentasan kemiskinan, dan lain-lain," katanya.
Lebih lanjut, Esther menilai penguatan pasar domestik harus menjadi prioritas dalam strategi hilirisasi nasional. Ia mengingatkan Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada 1984 dan pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran penting dalam membangun ketahanan sektor pangan dan komoditas nasional.
Menurutnya, dengan memperkuat pasar domestik, pelaku industri dapat terus meningkatkan efisiensi produksi serta kualitas produk sehingga lebih siap bersaing di pasar internasional.
Esther juga menyoroti masih adanya tantangan dalam pengembangan produk hilir komoditas perkebunan Indonesia. Meski Indonesia merupakan produsen berbagai bahan baku unggulan, kualitas sejumlah produk hilir dinilai masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan produk internasional.
Ia mencontohkan industri cokelat nasional yang masih menghadapi tantangan untuk menghasilkan produk dengan kualitas setara cokelat asal Swiss maupun Belgia.
Untuk mendukung keberhasilan hilirisasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani maupun peternak yang masuk dalam rantai pasok, Esther mengusulkan empat pilar utama pembangunan sektor pangan dan pertanian berkelanjutan.
Keempat pilar tersebut meliputi lingkungan yang mendukung dan memungkinkan, karakteristik pasar yang menguntungkan, optimalisasi karakteristik produksi, serta penciptaan mata pencaharian alternatif.
Menurutnya, lingkungan yang mendukung mencakup berbagai faktor seperti kebijakan, regulasi, layanan, kelembagaan, hingga infrastruktur yang mampu menciptakan prasyarat bagi produksi pangan berkelanjutan dan peningkatan kinerja ekonomi.
Esther menambahkan, petani kecil membutuhkan akses yang lebih luas terhadap pelatihan, pendampingan teknis, pembiayaan, teknologi, serta informasi pasar. Dukungan tersebut akan membantu meningkatkan produktivitas, kualitas hasil produksi, dan daya saing komoditas nasional.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah mengambil peran lebih besar dalam menyediakan akses terhadap benih unggul, pupuk berkualitas, teknologi pertanian, serta layanan penyuluhan yang memadai.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ekonom yakin hilirisasi jadi kunci pacu nilai komoditas perkebunan
Pewarta: Ahmad Muzdaffar FauzanUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.