Ambon (ANTARA) - Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)/Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) Provinsi Maluku memperkuat pemberdayaan lanjut usia (lansia) agar tetap mandiri, sehat, dan produktif, melalui Program Sidaya.
Kepala Perwakilan BKKBN Maluku Edi Setiawan di Ambon, Senin, mengatakan Program Sidaya (Lansia Berdaya) merupakan bentuk penguatan perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan lansia yang sebelumnya telah dijalankan melalui Program Bina Keluarga Lansia (BKL).
"Kalau sebelumnya kita punya Bina Keluarga Lansia, sekarang ada program prioritas yang menyasar lansia, yaitu Sidaya," katanya.
Ia menjelaskan Program Sidaya mencakup empat layanan utama yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Layanan pertama berupa pemeriksaan kesehatan rutin guna memastikan kondisi kesehatan lansia tetap terpantau secara berkala.
Layanan kedua adalah pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP) yang memberikan edukasi kepada keluarga mengenai cara merawat lansia secara tepat di lingkungan rumah.
"Kita ingin keluarga memahami bagaimana memberikan perawatan terbaik kepada lansia yang ada di rumah," ujarnya.
Program ketiga adalah Lansia Planner, yang bertujuan menjaga produktivitas lansia melalui pengembangan keterampilan dan aktivitas yang memiliki nilai ekonomi.
Menurut Edi, banyak lansia di Maluku masih memiliki kemampuan yang dapat terus dikembangkan, seperti kerajinan anyaman maupun usaha produktif lainnya.
"Kita ingin lansia tetap berdaya dan produktif. Tadi kita lihat ada lansia yang memiliki keterampilan anyaman dan itu punya potensi ekonomi yang baik," katanya.
Layanan keempat berupa pengembangan Kartu Lansia yang diharapkan dapat memberikan kemudahan akses layanan kesehatan, transportasi, dan berbagai pelayanan publik lainnya.
"Kami ingin lansia mendapatkan pelayanan ekstra, bukan hanya di bidang kesehatan tetapi juga transportasi dan layanan publik lainnya yang memang layak mereka terima," ujarnya.
Selain itu pihaknya mendorong penambahan jumlah Sekolah Lansia di Kota Ambon sebagai sarana pembelajaran dan pemberdayaan warga lansia.
Menurut Edi, Sekolah Lansia yang telah berjalan saat ini akan terus diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga keagamaan dan komunitas masyarakat.
"Kami berharap jumlah sekolah lansia bisa terus bertambah, dari tiga menjadi lima, kemudian 10, bahkan lebih," katanya.
Ia menilai kelompok warga senior yang telah terbentuk di gereja maupun komunitas keagamaan lainnya dapat menjadi basis pengembangan sekolah lansia tanpa harus membentuk organisasi baru.
"Kelompok warga senior yang sudah ada bisa di-rebranding menjadi sekolah lansia dengan memasukkan program-program yang kita miliki," ujarnya.
Edi menambahkan penguatan program lansia merupakan bagian dari pendekatan pembangunan keluarga yang dijalankan kementerian melalui siklus kehidupan, mulai dari calon pengantin, balita, remaja hingga lansia.
Menurut dia, setiap kelompok sasaran memiliki program pendampingan tersendiri, termasuk Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) untuk penguatan kualitas pengasuhan anak serta Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
"Kita mengawal keluarga mulai dari calon pengantin, balita, remaja hingga lansia. Setiap tahap memiliki program masing-masing," katanya.
Ia berharap penguatan Program Sidaya dan Sekolah Lansia dapat mendorong terwujudnya lansia yang sehat, mandiri, produktif, dan tetap berperan aktif dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.