Ambon (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku mengampanyekan kepedulian terhadap perubahan iklim melalui berbagai aksi sederhana yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga menanam pohon sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku Sadali Ie di Ambon, Selasa, mengatakan perubahan perilaku masyarakat dari lingkup rumah tangga menjadi langkah penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

"Marilah kita menjadikan Gerakan Indonesia Asri sebagai budaya baru bangsa. Dengan melakukan pertobatan ekologis dan mengubah perilaku terhadap lingkungan, kita tidak hanya menjaga bumi, tetapi juga mewariskan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang menuju Indonesia Emas 2045," katanya usai membuka aksi bersih lingkungan dalam rangka Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 di Kota Ambon.

Sadali menjelaskan peringatan Hari Lingkungan Hidup yang mengusung tema "Act Now for Climate, Saatnya Bekerja untuk Iklim" menjadi momentum memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat untuk melakukan aksi nyata dalam menjaga kelestarian bumi.

Menurut dia, dunia saat ini menghadapi tiga krisis utama atau Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Menurut dia, ketiga persoalan tersebut saling berkaitan dan berdampak terhadap stabilitas ekologi, ekonomi, serta kehidupan masyarakat sehingga membutuhkan kolaborasi semua pihak untuk mengatasinya.

Ia mengatakan Indonesia sedang berkomitmen menjalankan Persetujuan Paris (Paris Agreement) dengan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen melalui upaya sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030.

Komitmen tersebut, lanjutnya, juga diperkuat melalui strategi pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim dalam dokumen Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050).

Sebagai negara kepulauan, kata Sadali, Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim karena lebih dari 60 persen penduduk tinggal di wilayah pesisir yang menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, hingga terganggunya ketahanan pangan.

Di sisi lain, persoalan pengelolaan sampah juga menjadi tantangan serius karena Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun, sementara sebagian besar belum dikelola secara optimal sehingga berpotensi meningkatkan pencemaran dan emisi gas metana.

Di Kota Ambon sendiri Produksi sampah mencapai rata-rata 256,41 ton per hari. Dari total tersebut, sekitar 160 hingga 165 ton per hari masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Toisapu. Negeri Batu Merah tercatat sebagai wilayah penyumbang sampah terbanyak di kota ini, yakni mencapai 46 ton per hari

Untuk itu, ia mengajak masyarakat memulai aksi nyata dari lingkungan keluarga dengan memilah sampah sejak dari rumah, menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengembangkan bank sampah, serta melakukan penanaman pohon secara berkelanjutan.

Menurut dia, langkah-langkah sederhana tersebut apabila dilakukan secara konsisten akan memberikan kontribusi besar terhadap pengurangan emisi dan peningkatan ketahanan iklim.

“Mari memulai menjaga lingkungan dari keluarga untuk masa depan alam yang lebih baik,” ujar dia.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026