Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu menegaskan Indonesia berkomitmen terus memperkuat kemitraan strategis dengan Australia melalui peningkatan investasi berkualitas.

"Kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang semakin matang," kata Wamen Todotua dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, Indonesia dan Australia berada pada momentum yang sangat tepat karena hubungan ekonomi kedua negara yang saling melengkapi.

Ia mengatakan melalui rangkaian kunjungan kerja, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kemitraan strategis dengan Australia melalui peningkatan investasi berkualitas.

Pertemuan dengan investor, dialog bersama pelaku usaha, serta partisipasi dalam Indonesia-Australia Business Summit 2026 diharapkan menjadi langkah konkret untuk mendorong realisasi investasi yang mendukung hilirisasi, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi kedua negara.

"Kami mengundang investor Australia untuk menjadi bagian dari babak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau," ujarnya saat menjadi pembicara kunci dalam Indonesia-Australia Business Summit (IABS) for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Australia, Selasa (30/6/2026).

Selanjutnya, Wamen Todotua melakukan pertemuan one-on-one dengan Pure Battery Technologies (PBT), perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia yang diwakili Chairman Stephen Wilmot.

Dalam pertemuan tersebut, PBT memaparkan rencana investasi pembangunan fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri baterai nasional.

Pertemuan juga membahas peluang kolaborasi, kesiapan lokasi investasi, serta langkah-langkah percepatan realisasi proyek.

"Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," ujarnya.

Selain sektor industri baterai, Wamen Todotua juga bertemu dengan BCI Minerals untuk membahas peluang investasi dalam pengembangan hilirisasi garam industri.

Diskusi difokuskan pada potensi pemenuhan kebutuhan bahan baku industri nasional sekaligus mendorong terciptanya nilai tambah melalui pengolahan mineral nonlogam di dalam negeri.

Todotua juga menekankan pentingnya memperkuat konektivitas logistik kawasan melalui optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II sebagai jalur strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Menurut dia, ALKI II merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok dan Selat Makassar. Pada 2024, koridor ini dilalui perdagangan bijih besi senilai 138 miliar dolar Australia batu bara 91 miliar dolar Australia, dan LNG 69 miliar dolar Australia.

"Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok, logistik, serta investasi di kawasan," katanya menambahkan.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Indonesia berkomitmen perkuat kemitraan strategis dengan Australia  



Pewarta: Khaerul Izan
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026