Ambon (ANTARA) - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Maluku menggandeng Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri untuk memperkuat pencegahan penyebaran radikalisme dan terorisme melalui edukasi, literasi digital, serta publikasi informasi kepada masyarakat.

Kepala Dinas Kominfo Provinsi Maluku Titus Renwarin di Ambon, Senin (6/7), mengatakan kolaborasi lintas instansi penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenali dan mencegah radikalisme, intoleransi, serta terorisme.

"Kami siap mendukung publikasi berbagai strategi pencegahan terorisme. Kami juga mengharapkan dukungan seluruh komponen masyarakat agar bersama-sama mencegah terjadinya terorisme dan berbagai ancaman yang dapat merugikan kepentingan kita bersama," katanya.

Titus mengatakan sinergi tersebut bakal diwujudkan melalui penguatan literasi digital masyarakat, penyebarluasan informasi edukatif melalui berbagai platform komunikasi pemerintah, serta kampanye kontra narasi untuk menangkal radikalisme, intoleransi, dan terorisme.

Upaya itu juga diperkuat dengan sosialisasi di sekolah, perguruan tinggi, komunitas kepemudaan, serta pelibatan tokoh agama, tokoh adat, media massa, dan organisasi kemasyarakatan guna membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan.

Menurut dia, penyampaian informasi edukatif secara berkelanjutan mampu membangun ketahanan masyarakat terhadap berbagai ancaman yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban.

Sementara itu, Kepala Satuan Tugas Wilayah Maluku Densus 88 Anti Teror Polri Kombes Pol I Wayan Sukarena mengatakan pendekatan pencegahan menjadi strategi utama yang terus diperkuat melalui kerja sama dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Ia mengatakan Densus 88 mendukung kolaborasi tersebut melalui penyediaan materi edukasi, peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dalam mengenali indikasi penyebaran paham radikal di ruang digital, serta penguatan deteksi dini terhadap kelompok masyarakat yang rentan terpapar.

"Melalui publikasi dan edukasi yang masif, kami ingin memberikan semacam 'vaksin' informasi kepada masyarakat agar tidak mudah terpapar paham-paham yang mengarah pada radikalisme dan terorisme," katanya.

Ia menambahkan selain menjalankan program deradikalisasi, Densus 88 juga memprioritaskan langkah pencegahan terhadap kelompok masyarakat yang rentan terpapar, terutama remaja dan pelajar yang sedang berada pada fase pencarian jati diri.

"Kelompok ini rentan terpapar paham radikal, ujaran kebencian, intoleransi, maupun ideologi kekerasan lainnya. Karena itu, edukasi sejak dini menjadi sangat penting," ujarnya.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Luqman Hakim

COPYRIGHT © ANTARA 2026