Jakarta (ANTARA) - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai proses produksi film internasional yang dilakukan di Indonesia dapat memberikan dampak berganda yang positif bagi aktivitas perekonomian nasional, sekaligus membuka peluang peningkatan investasi di subsektor perfilman.
Menurutnya, produksi film tidak hanya dapat membuka peluang melalui penyerapan tenaga kerja lokal, tetapi juga dengan menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, logistik, UMKM hingga pariwisata.
"Kita ingin culture Indonesia, alam Indonesia, tim production dan talent-talent Indonesia juga bisa semakin berkolaborasi, karena dalam kolaborasi tidak hanya mempromosikan Indonesia tetapi juga ada transfer knowledge, ada transfer teknologi, dan banyak hal untuk mendukung industri film Indonesia sebagai diplomasi kita ke dunia Internasional," katanya dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.
Hal tersebut disampaikan saat meninjau proses syuting film internasional "Happy Eyes" di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Jumat (7/8/2026).
Film tersebut merupakan kolaborasi produksi antara Moana Films asal Prancis dan studio Indonesia Jungle Run Productions.
Kementerian Ekraf melihat dampak produksi film tidak berhenti pada industri perfilman. Selama proses produksi, kebutuhan terhadap akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, logistik, hingga berbagai jasa pendukung turut menciptakan aktivitas ekonomi di daerah lokasi syuting.
Selain dampak langsung selama produksi, film internasional juga berpotensi memberikan manfaat jangka panjang melalui promosi destinasi Indonesia.
Lokasi yang tampil dalam film dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan setelah film tersebut ditayangkan.
Teuku mengatakan pemerintah juga terus mendorong kemudahan bagi produksi film internasional, termasuk melalui koordinasi perizinan, visa, serta keluar-masuk peralatan produksi.
"Dalam memberikan dukungan film produksi internasional seperti ini kami terus berkolaborasi sehingga dapat mempermudah, apakah itu kaitannya dengan visa, perizinan, kemudian juga untuk masuknya perlengkapan peralatan hingga dikeluarkannya kembali,” ujarnya.
Menurutnya, kemudahan tersebut diperlukan untuk meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai lokasi produksi sekaligus mendorong investasi asing (foreign direct investment/FDI) di subsektor perfilman.
Film "Happy Eyes" menjalani proses produksi selama sekitar 40 hari di Indonesia dengan lokasi syuting utama di Taman Safari Bogor dan Tanjung Lesung, Banten.
Produksi tersebut melibatkan sekitar 40 kru asing dan 180 kru Indonesia.
Executive Producer "Happy Eyes" Joe Yaggi mengatakan sekitar 70 persen dari total lebih dari 200 kru yang terlibat dalam produksi berasal dari Indonesia.
Menurutnya, keterlibatan kru lokal menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kreatif Indonesia agar mampu bekerja dalam standar produksi internasional.
"Kru dari Prancis sangat senang bekerja dengan kru kita. Mereka sangat impress dengan kru kita. Jadi, kita ada kesempatan di sini. Saya harap film yang seperti ini lebih banyak karena kru kita bisa kerja di tingkat internasional," kata Joe.
Dengan kekayaan alam, budaya, keanekaragaman hayati, serta talenta lokal yang tersedia, pemerintah berharap semakin banyak produksi film internasional memilih Indonesia.
Kehadiran produksi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat industri film nasional, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi ke berbagai sektor dan daerah.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menteri Ekraf: Film internasional diproduksi di RI berdampak positif
Pewarta: Fitra AshariUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.