Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengatakan pengalaman China dalam pembangunan sumber daya manusia, wilayah, ekonomi, dan industri dapat menjadi referensi pengembangan kawasan transmigrasi Indonesia.
Ia menjelaskan Kementerian Transmigrasi tidak mengadopsi suatu model kawasan transmigrasi dari China, melainkan mempelajari pengalaman pembangunan negara tersebut untuk memperkaya pilihan model yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan kawasan transmigrasi di Indonesia.
“Kita ingin agar model-model pembangunan di Republik Rakyat China bisa memberikan inspirasi kepada kami sebagai perbandingan yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi, sosial, budaya masyarakat di kawasan transmigrasi,” kata Viva dalam acara "Seminar on China's Development Model" di Jakarta, Selasa.
Hal itu disampaikan Wamentrans dalam sambutannya saat membuka seminar yang mempertemukan jajaran Kementerian Transmigrasi dengan akademisi Peking University serta perwakilan Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia.
Menurut dia, aspek relevan yang patut dipelajari antara lain dari sisi pembangunan sumber daya manusia dan kewilayahan, pengembangan model ekonomi sesuai produk yang dihasilkan masing-masing kawasan, serta pembangunan industri.
Pengalaman tersebut, lanjut Viva, tidak serta-merta diterapkan secara langsung karena setiap negara memiliki karakteristik dan tantangan pembangunan yang berbeda.
Karena itu, pembelajaran dari China ditempatkan sebagai perspektif perbandingan untuk memperkaya alternatif pembangunan yang sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat di kawasan transmigrasi Indonesia.
Viva menegaskan transmigrasi saat ini tidak sekadar berkaitan dengan perpindahan penduduk, tetapi menjadi bagian dari agenda pembangunan yang lebih luas mencakup pengembangan wilayah, pemberdayaan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, dan masyarakat.
Pendekatan tersebut juga menjadi salah satu dasar Kementerian Transmigrasi melibatkan kalangan akademisi melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 dalam pengembangan kawasan transmigrasi.
Pada 2026, Kementerian Transmigrasi menerjunkan 1.476 peserta TEP ke 53 kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Peserta terdiri atas 39 profesor, 10 peneliti pascadoktoral, 158 doktor, 49 magister, 214 mahasiswa magister terapan, dan 937 sarjana dari berbagai perguruan tinggi.
“Kita ingin membangun kawasan transmigrasi dengan ilmu pengetahuan,” ujar Viva.
Ia mengatakan keterlibatan perguruan tinggi diharapkan dapat memperkaya perspektif akademis dalam menentukan arah pengembangan kawasan sehingga pembangunan dapat dilakukan secara terarah, konsisten, dan berkesinambungan.
Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah serta mempercepat lahirnya inovasi yang sesuai dengan potensi setiap kawasan transmigrasi.
"Seminar on China's Development Model" diselenggarakan Kementerian Transmigrasi bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia dan Peking University melalui Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD).
Forum yang berlangsung pada 11-12 Agustus 2026 itu membahas pengalaman China dalam pembangunan nasional, reformasi ekonomi, tata kelola pemerintahan, serta kerja sama pembangunan antarnegara berkembang.
Ketua Dewan Manajemen National School of Development Peking University Prof Lei Xiaoyan mengatakan kerja sama tersebut menjadi titik memperluas pertukaran pengalaman pembangunan antara Indonesia dan China.
Lei mengatakan Peking University memiliki pengalaman dalam penelitian sekaligus pendampingan wilayah di China dalam upaya pengentasan kemiskinan. Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran bersama dengan Indonesia.
“Kami memiliki banyak pengalaman yang dapat dibagikan ke depan, tidak hanya dalam seminar hari ini, tetapi ke depan mungkin masih banyak hal yang dapat kami lakukan bersama,” ujar Lei.
Ia menekankan kerja sama tersebut bersifat dua arah karena pihaknya juga ingin mempelajari pengalaman pembangunan Indonesia sekaligus membuka peluang pengembangan kerja sama lebih lanjut antara Peking University dan Kementerian Transmigrasi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamentrans: China dapat jadi referensi pengembangan transmigrasi RI
Pewarta: Aria AnandaUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.