Ambon (ANTARA) - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan peneliti dari dalam maupun luar negeri guna memperkuat penelitian sejarah dan budaya Maluku yang hingga kini masih memiliki keterbatasan referensi.
Pamong Budaya BPK Maluku Hapsoro Ari Widyatama di Ambon, Rabu, mengatakan pihaknya sedang membangun jejaring dengan sejumlah peneliti dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk universitas di luar Ambon dan Indonesia.
"Kami sedang mencoba untuk membangun koneksi dari berbagai peneliti dan mahasiswa dari universitas-universitas dari luar Ambon maupun Indonesia. Seperti sebelumnya dari Utrecht University, Buffalo University USA, dan UGM," kata dia.
Menurut dia, penguatan jejaring akademik tersebut penting untuk memperluas akses terhadap sumber-sumber sejarah dan budaya Maluku yang selama ini belum seluruhnya dapat dijangkau oleh peneliti di daerah.
Ia mengatakan referensi mengenai sejarah dan budaya Maluku masih relatif terbatas sehingga studi di bidang tersebut perlu terus ditingkatkan melalui penelitian dan pertukaran data dengan lembaga maupun perguruan tinggi.
"Iya, karena referensi mengenai sejarah budaya di Maluku masih sangat terbatas, mengingat studi budaya di sini masih harus ditingkatkan lagi," ujarnya.
Hapsoro menjelaskan BPK Maluku juga sedang menjajaki pertukaran data dengan peneliti dari Leiden University, Belanda.
"Jadi kami membagikan data yang dia butuhkan, dan dia bisa gantian membagikan data-data mengenai sejarah budaya Maluku yang masih tersimpan di Belanda," katanya.
Menurut dia, pertukaran data tersebut berpotensi membuka akses terhadap berbagai hasil penelitian terdahulu mengenai Maluku yang masih tersimpan di Belanda dan belum dapat diakses secara luas.
"Seperti penelitian-penelitian terdahulu yang belum bisa kita akses," katanya.
BPK Maluku telah menerima kunjungan peneliti dari Global History of Knowledge, Institute of History, Leiden University, yang sedang melakukan penelitian mengenai sejarah kolonial, khususnya di Indonesia.
Dalam kunjungannya ke BPK Maluku, peneliti tersebut membawa sejumlah buku dan gambar berkaitan dengan Rumphius sebagai bahan penelitian. Kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi serta pertukaran informasi mengenai sejarah dan warisan budaya Maluku.
Hapsoro berharap, hubungan dengan peneliti dan perguruan tinggi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga penelitian mengenai sejarah dan budaya Maluku tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga membantu memperkuat upaya pelestarian warisan budaya daerah.
"Selain itu ini juga memperkuat studi atau penelitian sejarah budaya di Maluku," katanya.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.