Jakarta (ANTARA) - Pengamat politik dan isu intelijen Boni Hargens meyakini aparat keamanan nasional telah memiliki kesiapan serta strategi kolaborasi yang matang dengan berbagai skenario keamanan dalam menghadapi demonstrasi besar.
Dia mengatakan rumor seputar potensi kekacauan dalam aksi hari ini merupakan bagian dari dinamika narasi di ruang publik kontemporer, yang tidak otomatis dimaknai sebagai ancaman nyata, namun tetap memerlukan respons yang proporsional dan terukur dari semua pihak.
"Polri bersama TNI dan BIN tentunya sudah memiliki strategi kolaborasi yang efektif untuk menjaga kondisi tetap aman dalam situasi kacau apa pun yang mungkin terjadi," ucap Boni dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Meskipun demikian, ia menegaskan kewaspadaan tidak boleh kendur walaupun situasi tampak terkendali.
Boni pun menyebut adanya kerangka analisis keamanan yang dikenal sebagai Black Swan Theory (Teori Angsa Hitam). Teori dalam ilmu keamanan tersebut menekankan selalu ada kemungkinan terjadinya peristiwa tak terduga, bahkan ketika tidak ada preseden atau indikasi sebelumnya.
Menurut dia, peristiwa yang tidak dapat diprediksi namun berdampak besar selalu memiliki peluang untuk terjadi.
Disebutkan bahwa logika keamanan harus senantiasa memperhitungkan kemungkinan itu, bahkan ketika situasi tampak sepenuhnya normal dan terkendali.
Untuk itu, dia mengatakan keberhasilan menjaga keamanan tidak boleh membuat aparat terlena. Perencanaan skenario terburuk (worst-case scenario planning) dan respons adaptif dinilai menjadi kunci dalam menghadapi setiap momen demonstrasi berskala besar.
Dengan demikian, dia mengajak semua pihak, termasuk masyarakat, media, dan pengambil kebijakan, untuk merespons isu potensi kekacauan yang mungkin menyertai aksi pada demonstrasi Kamis secara proporsional, yakni tidak meremehkan ancaman namun juga tidak memperkeruh suasana dengan kepanikan yang tidak berdasar.
"Tentu saja kita tidak mengharapkan hal buruk terjadi, namun logika keamanan harus selalu melihat adanya peluang munculnya angsa hitam dalam setiap peluang ancaman," ujar mantan Dewan Pengawas LKBN ANTARA tersebut.
Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) telah menyiapkan personel di berbagai titik di Jakarta untuk mengawal aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis.
Kepolisian berkoordinasi dengan TNI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta petugas pengamanan dalam (pamdal) di berbagai titik, termasuk DPR dan instansi di area sekitar Bundaran Hotel Indonesia menuju Istana Kepresidenan Jakarta.
Personel yang ditugaskan tidak hanya untuk mengawal unjuk rasa, tetapi juga keperluan pengamanan lain sehingga jumlahnya akan lebih banyak dari massa aksi.
Kendati demikian, Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto belum memerinci jumlah personel yang nantinya diturunkan.
Adapun massa yang akan mengikuti aksi di depan kompleks parlemen, Jakarta, pada Kamis, mulai menyiapkan berbagai atribut tuntutan di lokasi itu.
Pantauan ANTARA di Jakarta, Rabu (26/8), sejumlah orang terlihat berkumpul sembari membuat spanduk menggunakan kain berwarna putih dan cat semprot.
Sejumlah massa tampak menuliskan tuntutan dan pesan aksi pada kain tersebut.
Bendera dan atribut yang terlihat di antaranya milik Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Aliansi Rakyat Indonesia Bersatu (ARIB), serta atribut bertuliskan "No Viral No Justice".
Di sekitar lokasi, sejumlah pengemudi ojek daring (ojol) juga terlihat berkumpul dan memberikan dukungan kepada massa. Beberapa pengemudi ojol membantu menurunkan barang bantuan dari kendaraan yang datang.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat: Aparat keamanan miliki strategi matang hadapi demo besar
Pewarta: Agatha Olivia VictoriaUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.