Ambon (ANTARA) - Matahari baru saja naik di ufuk Kota Ambon. Angin laut yang membawa aroma khas pesisir menyapu lapak-lapak pedagang yang mulai memajang barang dagangannya.
Di tengah deretan uang kertas lusuh dan riuh gemerincing koin yang selama ini menjadi napas utama perdagangan warga, ada pemandangan berbeda yang terselip di sudut meja kayu kasir, yaitu selembar cetakan kode persegi berwarna hitam dan putih.
Seorang pembeli melangkah mendekat, memesan sarapan, lalu merogoh saku celananya. Bukan dompet tebal berisi lembaran rupiah yang ia keluarkan, melainkan sebuah telepon genggam. Ia mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah kode tersebut. Hanya dalam hitungan detik, layar menyala, dan denting halus suara notifikasi memecah keheningan pagi.
Transaksi tuntas tanpa sepatah kata pun soal kembalian, tanpa jeda menghitung lembaran uang.
Pemandangan tersebut kini bukan lagi cerita dari kota-kota besar di Pulau Jawa. Di warung makan sederhana, kedai kopi tempat warga bertukar cerita, hingga lapak kuliner malam di sudut-sudut publik Ambon Manise, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) perlahan tapi pasti menggeser kebiasaan lama. Sentuhan teknologi digital mulai merayap masuk, melengkapi kehangatan transaksi tatap muka warga lokal.
Pergeseran gaya hidup ini menjadi angin segar bagi Pemerintah Kota Ambon. Langkah masyarakat yang mulai akrab dengan pemindaian kode digital ini ditangkap sebagai momentum penting untuk mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melompat lebih jauh ke dalam ekosistem ekonomi modern.
Bergandengan tangan dengan Bank Indonesia Perwakilan Maluku, pemerintah setempat terus bergerilya menyusuri ruang-ruang ekonomi warga. Lewat edukasi yang telaten dan pendampingan di lapangan, mereka mengajak para pedagang kecil meretas batas, mengubah selembar kode cetak di meja kasir menjadi pintu masuk Ambon menuju masa depan ekonomi digital.
Uang Tunai Mulai Bergeser
Geliat digitalisasi di Kota Ambon semakin terasa nyata sejak Maret 2026. Langkah Pemerintah Kota Ambon bersama Bank Indonesia Perwakilan Maluku tak lagi sebatas imbauan di atas kertas, melainkan aksi merangkul para pelaku UMKM.
Lewat edukasi perlindungan konsumen dan pendampingan akuisisi merchant QRIS, ruang-ruang publik seperti Ruang Terbuka Publik (RTP) Wainitu, Air Salobar, hingga kawasan Amahusu kini disulap menjadi laboratorium hidup ekonomi digital masyarakat.
Bagi Pemkot Ambon, keberadaan UMKM adalah tulang punggung ekonomi lokal yang tak boleh dibiarkan jalan di tempat. Menyediakan lapak berdagang saja tidak cukup; menghadirkan ekosistem yang relevan dengan perkembangan zaman adalah kunci agar pedagang kecil tak terlindas arus modernisasi.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan mendesak demi menjaga daya saing.
Kehadiran QRIS menawarkan kepraktisan yang komplet: cepat, efisien, aman, dan yang tak kalah penting, menghadirkan pencatatan keuangan otomatis. Bagi pelaku usaha yang selama ini kerap kesulitan mengelola pembukuan manual, setiap pemindaian kode digital menjadi jejak rekam finansial yang rapi dan mudah dipantau.
Dampak nyata dari perubahan arus ini pun mulai dirasakan langsung oleh para pemilik usaha di lapangan.
Dyah Puspita, pemilik kedai Mie Sagu Cempaka Ambon, menjadi salah satu saksi bagaimana teknologi mengubah peta jalurnya berbisnis. Kini, sekitar 80 persen dari total transaksi harian di tempatnya yang mencapai rata-rata Rp3 juta sudah beralih menggunakan QRIS.
Bagi Dyah, kepraktisan pembayaran digital tak hanya membuat aliran kas usahanya tercatat rapi tanpa kendala berarti, tetapi juga membawa berkah tersendiri pada omzet harian. Sejak memajang kode QRIS di mejanya, ia mencatat lonjakan jumlah pelanggan hingga sekitar 20 persen.
Pengalaman sederhana dari sebuah kedai mie sagu ini menjadi bukti nyata bagaimana selembar kode digital perlahan tapi pasti merajut masa depan baru bagi geliat ekonomi warga Ambon.
Membuka Pintu Ekonomi Digital
Bagi Pemerintah Kota Ambon, deretan pemindaian kode digital di meja kasir bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan gerbang pembuka bagi lompatan ekonomi yang lebih besar.
Perubahan cara bertransaksi ini sengaja dirajut erat dengan penguatan UMKM, geliat ekonomi kreatif, hingga riuh pesona pariwisata daerah. Visi tersebut tampak makin nyata saat Kota Ambon terpilih menjadi salah satu panggung utama gelaran QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026.
Pesta kuliner ini tak sekadar menjadi ajang memperkenalkan transaksi nontunai, melainkan juga wadah bagi para perajin rasa lokal untuk memanfaatkan teknologi demi menembus pasar yang lebih luas.
Di tempat seperti Negeri Rutong, sentuhan teknologi digital membaur hangat dengan potensi ekonomi berbasis warga. Kuliner lokal pun dipilih sebagai ujung tombak pengenalan QRIS.
Gerakan ini kian menemukan bentuknya saat seremoni Kick-Off QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 untuk wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (SULAMPUA) resmi dibuka di Ambon pada Agustus 2026.
Sekretaris Daerah Kota Ambon, Roby Sapulette, menegaskan dukungan penuh Pemkot terhadap akselerasi literasi pembayaran digital ini. Menurutnya, tiap pemindaian QRIS bukan cuma mempercepat denyut ekonomi UMKM dan pariwisata, tetapi juga menjadi medium untuk memperkenalkan kekayaan warisan budaya serta kelezatan kuliner Ambon ke panggung nasional.
Langkah digitalisasi ini bahkan merambah hingga ke ikon-ikon kuliner legendaris yang telah lama menjadi identitas daerah.
Berkolaborasi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), Pemkot Ambon mendorong para perajin Rujak Natsepa —kuliner khas pesisir yang legendaris— untuk turut bergabung dalam ekosistem QRIS. Hasilnya, kepraktisan modernisasi berjalan sejajar dengan pelestarian citra rasa tradisi.
Gema perubahan dari timur Indonesia ini pun terpantau jelas dalam skala yang lebih besar.
Data Bank Indonesia mencatat, hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS di tingkat nasional telah menembus 65,77 juta jiwa dengan 44,86 juta merchant yang 96,68 persen di antaranya adalah para pelaku UMKM. Pada separuh pertama tahun 2026 saja, tercatat 12,55 miliar transaksi QRIS bernilai mencapai Rp1,12 kuadriliun secara nasional.
Di Tanah Maluku sendiri, hingga akhir Semester I 2026, denyut transaksi digital ini telah mencapai 7,9 juta kali pemindaian yang melibatkan lebih dari 117 ribu merchant UMKM. Sementara itu di seluruh jangkauan kawasan SULAMPUA, gelombang transaksi digital meledak hingga 344 juta transaksi dari 3,7 juta pengguna dan 3,3 juta merchant.
Angka-angka tersebut menjadi penanda kuat bahwa dari pesisir Ambon hingga pelosok timur Indonesia, cara masyarakat bertransaksi telah resmi berpindah ke era baru.
Tak Sekadar Pengganti Uang Kertas
Di balik denting notifikasi yang berbunyi saban hari, QRIS membuktikan bahwa peran teknologi tak pernah berhenti sekadar menjadi pengganti lembaran uang kertas.
Bagi para pemilik usaha kecil di Kota Ambon, setiap jejak pemindaian digital adalah pintu menuju tata kelola usaha yang lebih mapan. Catatan transaksi yang terekam otomatis kini membantu mereka membaca pola penjualan dan mengontrol arus kas, sebuah fondasi penting yang pelan-pelan membuka akses mereka menuju layanan perbankan formal.
Di sinilah Pemerintah Kota Ambon memancangkan agendanya. Lewat Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), pemerintah tak sekadar mengajak warga bertransaksi secara digital, tetapi juga mengawal literasi keuangan dan mendorong penyaluran pembiayaan produktif. Pemkot sadar betul bahwa selembar stiker kode QR di meja kasir tak otomatis menyulap sebuah usaha langsung berkembang pesat.
Tantangan nyata di lapangan masih membayang. Para pelaku UMKM masih harus bergulat dengan urusan modal, pasokan bahan baku, ruang pemasaran, hingga dinamika daya beli masyarakat.
Karena itu, pekerjaan rumah Pemkot Ambon bukanlah berlomba memperbanyak cetakan kode QR di lapak-lapak pedagang, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar memberi dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Selaras dengan hal itu, Bank Indonesia terus memagari arus pergeseran ini dengan penguatan literasi dan perlindungan konsumen. Memastikan transaksi berjalan aman, mengedukasi cara mengonfirmasi pembayaran, serta menjaga kerahasiaan data pribadi menjadi benteng penting agar gelombang digitalisasi ini tidak memakan korban.
Kini, transformasi itu terus bergerak membasahi setiap sudut Kota Ambon. Dari deretan meja di ruang terbuka publik, pusat jajanan kuliner lokal, hingga toko kelontong yang melayani kebutuhan sehari-hari, QRIS perlahan menenun wajah baru perdagangan kota.
Selembar kode hitam putih itu memang hanya memakan sedikit ruang di atas meja. Namun, di balik setiap pemindaian kamera ponsel, tersimpan perubahan pola pikir warga Ambon dalam bertransaksi dan mengelola usaha, serta langkah mantap mereka menuju masa depan ekonomi digital.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: QRIS membuat UMKM Ambon naik kelas
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.