AMBON (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkuat pelaksanaan program New Zealand-Maluku Renewable Energy for Sustainable Energy (NZMATES) untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sekaligus meningkatkan akses listrik masyarakat di wilayah kepulauan Maluku.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Prof Eniya Listiani Dewi di Ambon, Senin mengatakan kerja sama Indonesia dan Selandia Baru dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya di Maluku, telah berjalan selama lima tahun dan kini memasuki fase kedua.

"Selama ini, kita sudah membangun kerja sama yang erat dengan Pemerintah Selandia Baru. Lima tahun lalu, kerja sama antara Pemerintah Selandia Baru dan Indonesia sudah dimulai, khususnya dengan fokus di wilayah Maluku," katanya.

Menurut Eniya, pengembangan energi terbarukan di Maluku menjadi penting karena karakter wilayah yang didominasi kepulauan dan memiliki banyak pulau kecil. Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan dalam penyediaan listrik yang andal sekaligus efisien.

Salah satu hasil kerja sama tersebut terlihat di Pulau Tiga. Sebelum dilakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), masyarakat setempat mengandalkan mesin diesel dan hanya memperoleh pasokan listrik sekitar enam jam per hari.

Melalui kerja sama pemerintah Indonesia, Selandia Baru, dan PT PLN (Persero), kapasitas PLTS di wilayah tersebut diperbesar dan direvitalisasi sehingga mampu mendukung pasokan listrik selama 24 jam sejak 2024.

Ia mengatakan peningkatan akses listrik tersebut mulai memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat. Listrik tidak lagi hanya digunakan untuk penerangan, tetapi juga mendukung kebutuhan rumah tangga dan aktivitas ekonomi.

Dirinya mencontohkan masyarakat yang sebelumnya hanya menggunakan listrik untuk menyalakan lampu, kini mulai memanfaatkan berbagai peralatan rumah tangga seperti mesin cuci dan radio.

Selain meningkatkan kualitas hidup, kata dia, pemanfaatan PLTS di pulau-pulau kecil juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM), sehingga berpotensi menekan biaya pembangkitan listrik dan beban subsidi pemerintah.

"Biaya pembangkitan listrik menggunakan diesel di sejumlah wilayah dapat mencapai sekitar 30 sen dolar AS per kilowatt-hour. Sementara tarif yang dibayarkan pelanggan rumah tangga berada pada kisaran Rp700 hingga Rp900 per kilowatt-hour, sedangkan biaya produksinya bisa mencapai sekitar Rp5.000 per kilowatt-hour," katanya.

Ia menegaskan keberhasilan pengembangan energi terbarukan di wilayah kepulauan tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan pembangkit.

Sementara itu, Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Philip N. Taula mengatakan kemitraan kedua negara dalam pengembangan energi terbarukan telah berlangsung cukup lama dan mencakup berbagai sektor, termasuk energi panas bumi.

"Sudah lama terjalin kemitraan antara Pemerintah Selandia Baru dan Pemerintah Indonesia, khususnya di bidang energi terbarukan, termasuk energi panas bumi serta berbagai sumber energi terbarukan lainnya," katanya.

Ia mengatakan NZMATES fase kedua akan diarahkan untuk memperkuat peran masyarakat, mendukung pembangunan ekonomi, dan meningkatkan akses terhadap energi terbarukan di Maluku.

Dirinya menekankan pentingnya koordinasi dengan pemerintah daerah, terutama dalam dukungan teknis, prosedur pelaksanaan, dan pemahaman terhadap regulasi yang berlaku di daerah.

"Yang menjadi fokus utama adalah masyarakat lokal. Apabila masyarakat lokal terlibat secara aktif dalam program ini, saya percaya hasilnya akan lebih baik. Akan ada rasa memiliki yang lebih kuat serta partisipasi masyarakat yang lebih besar," katanya.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kementerian ESDM perkuat NZMATES untuk energi terbarukan di Maluku

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026