Maluku Sketchwalk Ajarkan Pelajar Membuat Sketsa

Maluku Sketchwalk Ajarkan Pelajar Membuat Sketsa

Sejumlah pelajar mengunjungi pameran sketsa wajah Maluku yang digelar komunitas Maluku Sketchwalk di Ambon, Senin (28/8) (Shariva Alaidrus)

Ambon, 28/8 (Antara Maluku) - Komunitas penggambar sketsa (sketcher) "Maluku Sketchwalk" mengajarkan teknik membuat sketsa kepada para pelajar SD hingga SMA di Kota Ambon, di Maluku Sketchwalk Exhibition & Workshop 2017, Senin.

Sedikitnya ada 50an siswa SD hingga SMA hadir dalam kegiatan yang berlangsung santai pusat perbelanjaan Ambon City Center tersebut.

Di bawah bimbingan sketcher Embong Salampessy dan Lienly Pattinama, para pelajar diajarkan teknik menggambar menggunakan pensil dan pena, kemudian mengarsir gambar dan memoleskan warna untuk memberikan efek dimensi pada sketsa yang dibuat.

Pada tahap awal pembelajaran, para siswa diajari menggambar bentuk gogos (penganan khas Maluku berbahan beras ketan dan dibungkus daun pisang), kue sus dan minuman ringan yang disiapkan di depan mereka.

Gambar-gambar yang telah jadi lalu diberi efek pewarnaan sesuai selera tetapi tidak menghilangkan bentuk aslinya, yakni dengan cara diarsir, dan ada pula yang langsung dipoles dengan cat air.

Sebagian besar peserta yang hadir baru pertama kali mempelajari seni membuat sketsa, Stevano Kastanya dari SMP Kalam Kudus dan Gabriel Sapulette dari SMK Negeri 4 Ambon misalnya.

Keduanya sudah tidak asing dengan dunia melukis, tapi baru pertama kali belajar membuat sketsa dan mengaku sedikit kesulitan dalam teknik pewarnaan.

Begitu juga dengan Naaswa Radja Eka Pradana, siswa SD Negeri 1 Ambon. Kendati demikian, ia tertarik untuk mempelajari lebih jauh seni membuat sketsa.

"Tertarik sekali, menurut mama yang penting ada niat, jadi saya pasti bisa," kata Naaswa.

Chinta Tira, guru SD Lentera mengatakan Maluku Sketchwalk Exhibition & Workshop 2017 telah memfasilitasi para siswanya untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang seni.

"Workshop ini baik karena memfasilitasi anak-anak yang pelajarannya rendah tapi bagus dalam seni, sebaiknya ini juga dikembangkan di sekolah-sekolah," ucapnya.

Embong Salampessy mengatakan seni sketsa tidak memiliki aturan tertentu. Berbeda dengan seni lukis, sketsa jauh lebih mudah dipelajari dan cepat rampung karena gambarnya tidak sedetail lukisan.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat sketsa hanyalah mengamati objek dengan baik, kemudian teknik pewarnaan yang memberi kesan dua dimensi pada gambar.

"Sketsa tidak sedetail lukisan tapi bisa memberi pesan kepada orang lain. Pewarnaan yang tepat atau diarsir akan memberi kesan dimensinya, ada bagian-bagian tertentu lebih terang dan gelap. Membuat sketsa waktunya lebih singkat, bisa 15 menit rampung tergantung gambarnya," katanya.

Embong yang sudah menekuni dunia melukis sejak tahun 1987 tapi kemudian meninggalkannya karena bekerja sebagai jurnalis, mengaku baru menekuni seni sketsa pada 2016 dan ikut membentuk komunitas Maluku Sketchwalk pada 6 Agustus 2016.

"Sekarang yang sedang berkembang adalah life sketch atau urban sketch, kami juga ingin melakukannya tapi karena baru kami ingin memulai dari foto," ucapnya.

Kendati terbilang pendatang baru, komunitas Maluku Sketchwalk yang anggotanya berasal dari beragam profesi tersebut, telah diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatan bertaraf nasional dan internasional, seperti Internasional Semarang Sketchwalk pada Agustus 2016 dan Asialink Sketchwalk di Bangkok, Thailand pada November 2016.