Belanda, Australia janji kejar keadilan atas jatuhnya pesawat MH17

Belanda, Australia janji kejar keadilan atas jatuhnya pesawat MH17

Penyelidik Belanda dan anggota Kementerian Darurat bekerja di lokasi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di dekat desa Hrabove, Donetsk, Ukraina timur. (Antaranews)

Sydney (ANTARA) - Australia dan Selandia Baru pada Rabu mengatakan akan mengejar tuntutan pidana bagi pihak yang bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat MH17 milik Malaysia Airlines yang menewaskan 298 orang bahkan jika itu memakan waktu bertahun-tahun.

Pesawat tersebut ditembak jatuh pada 17 Juli 2014, di atas wilayah yang dikuasai separatis pro-Rusia di Ukraina timur saat terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur, menewaskan semua orang yang berada di pesawat.

Tim investigasi yang dipimpin Belanda pada Juni mendakwa tiga warga Rusia dan seorang warga Ukraina dengan pembunuhan, meski tersangka tampaknya akan disidang secara absentia di Belanda.

Baca juga: Tiga warga negara Rusia, satu Ukraina dituduh dalam jatuhnya MH17

"Kami tidak akan berhenti sebelum kasus pengadilan itu ditutup dengan cara, di mana kami merasakan adanya keadilan," kata Perdana Menteri Belanda Mark Rutte saat mengunjungi Australia.

"Itu bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun dari yang kita inginkan," kata Rutte saat konferensi pers gabungan dengan Perdana Menteri Australia Scott Morrison.

Sebagian besar penumpang MH17 adalah warga negara Belanda, namun puluhan warga negara Australia juga ikut tewas.

"Kami saling bahu membahu dan akan terus mengejar keadilan dalam kasus ini selama itu diperlukan dan tidak akan berhenti," kata Morrison.

Tim investigasi gabungan yang dibentuk oleh Australia, Belgia, Malaysia, Belanda dan juga Ukraina menemukan bahwa pesawat itu ditembak jatuh oleh rudal Rusia.

Sumber: Reuters

Baca juga: Perdana Menteri Belanda sanggah isu "Islamophobia" di Eropa

Baca juga: Rutte: Belanda takkan bergabung dalam aksi militer di Suriah

Baca juga: Ukraina masukkan tersangka kasus MH17 dalam pertukaran tahanan
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2019