Masyarakat Tidore usulkan Sultan Zainal Abidin jadi pahlawan nasional

Masyarakat Tidore usulkan Sultan Zainal Abidin jadi pahlawan nasional

Seminar mengenai peran Sultan Zainal Abidin Syah dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia di Universitas Negeri Jakarta, Kamis (12/3). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Masyarakat Kepulauan Tidore, Maluku Utara, mengusulkan agar Sultan Tidore periode 1947-1967 Sultan Zainal Abidin Syah menjadi salah satu pahlawan nasional karena jasanya dalam memperjuangkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Tanpa adanya peran Sultan Zainal Abidin Syah, maka tidak akan ada dari Sabang sampai Merauke. Berkat jasa beliau, Indonesia saat ini dari Sabang sampai Merauke," ujar Wali Kota Tidore, Capt H Ali Ibrahim, dalam seminar nasional di Universitas Negeri Jakarta, Kamis.

Dia menambahkan Kesultanan Tidore merupakan kesultanan yang memiliki luas wilayah kekuasaan meliputi sebagian Maluku dan Papua. Selepas Proklamasi 1945, Kesultanan Tidore menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia.

Baca juga: Sultan Tidore instruksikan lindungi mahasiswa asal Papua
Baca juga: Pemkot Tikep revitalisasi situs sejarah Tidore

Sultan Zainal Abidin Syah juga merupakan gubernur pertama Irian Barat yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno.

"Sebagai Gubernur Irian Barat saat itu, Sultan Zainal Abidin Syah berhasil mempertahankan keutuhan NKRI dengan menyatakan Papua dan Papua Barat (saat itu Irian Barat) tetap bersama NKRI, meskipun diimingi-imingi dengan hal lain dan juga mendapat ancaman dari penjajah," terang dia.

Berkat kegigihan Sultan Zainal Abidin Syah, lanjut dia, sudah seharusnya perjuangannya dihargai dan dijadikan sebagai pahlawan nasional.

Sebelumnya, Kepulauan Tidore juga memiliki satu pahlawan nasional yakni Sultan Nuku atau Muhammad Amiruddin. Sultan Nuku ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 7 Agustus 1995.

"Tidore memang terlihat sebagai pulau kecil, tapi tanpa jasa Sultan Zainal Abidin Syah, maka Indonesia tidak bisa disebut dari Sabang sampai Merauke. Tanpa Tidore, Indonesia tanpa Papua," terang dia.

Baca juga: Sultan Tidore Tak Ingin Sofifi Dimekarkan
Baca juga: Pemkot Ternate perjuangkan Sultan Baabullah jadi pahlawan nasional

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Komarudin mengatakan keputusan bergabungnya Tidore dengan Indonesia merupakan keputusan yang patriotistik dan nasionalistik.

"Begitu Sultan Tidore ditanya Bung Karno ingin masuk NKRI atau tidak, jawabannya langsung NKRI. Itu menunjukkan satu pilihan yang sangat patriotik dan nasionalistik karena kecintaannya pada Indonesia," kata Komarudin.

Komarudin mendukung langkah masyarakat Tidore yang ingin menjadikan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai pahlawan nasional.

"Beliau memiliki jasa yang luar biasa bagi bangsa Indonesia," kata Rektor UNJ lagi.

Dosen UNJ, Abdul Haris Fatgehipon, mengatakan Sultan Zainal Abidin Syah merupakan sultan yang mendapat pendidikan Belanda namun memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Rasa nasionalisme itu diwujudkan dengan memilih bergabung dengan Indonesia selepas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Layak dijadikan film kisah pahlawan nasional Nani Wartabone
Baca juga: 20 nama diusulkan jadi calon Pahlawan Nasional
Baca juga: Sultan Zainal A Sjah diusulkan jadi pahlawan nasional

Pewarta : Indriani
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020