Dokter paru: Ventilator bukan faktor penyebab kematian pasien COVID-19

Dokter paru: Ventilator bukan faktor penyebab kematian pasien COVID-19

Ilustrasi - Ventilator rumah sakit. ANTARA/Shutterstock/am.

Jakarta (ANTARA) - Spesialis paru dr Andika Chandra Putra menerangkan bahwa isu naiknya angka kematian COVID-19 setelah pasien menggunakan ventilator mekanik terjadi karena hanya pasien yang berada dalam tahapan kritis atau dalam kondisi berat yang seharusnya menggunakan alat bantu pernapasan tersebut.

"Kalau kebutuhannya sudah maksimal artinya pasien sudah tidak bisa bernapas secara spontan lagi, harus dibantu dengan mesin, akan dibantu memakai ventilator dengan dilakukan intubasi," kata dokter paru yang berpraktik di RS St. Carolus itu ketika dihubungi di Jakarta, Selasa.

Logikanya, kata dia, ketika pasien sudah dibantu dengan secara maksimal dengan alat bantu ventilator mekanik yang dimasukkan dengan intubasi tentu pasien berada dalam kondisi berat.

Baca juga: Tiga industri diharapkan bisa segera produksi 300 ventilator portabel
Baca juga: Peneliti Universitas Khalifa buat ventilator dengan biaya lebih murah


Intubasi endotrakeal sendiri adalah tindakan medis memasukkan tabung endotrakeal melalui mulut atau hidung untuk menghubungkan udara luar dengan paru-paru.

Karena kondisi itu kemungkinan sembuh pasien yang menggunakan ventilator mekanik lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak menggunakan atau hanya membutuhkan nassal cannula atau selang bantu pernapasan.

"Bukan pemasangan ventilator yang membuat pasien meninggal tapi kondisinya yang menyebabkan meninggal. Karena kita melakukan pemberian bantuan oksigen disesuaikan dengan kondisi pasien. Kalau diberikan ventilator berarti kondisinya sudah berat ," tegas Ketua Bidang Ilmiah dan Penelitian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tersebut.

Baca juga: Kemenperin dorong kampus produksi ventilator
Baca juga: Dosen ITB sebut pesanan ventilator portabel lampaui target


Menurut beberapa pengalaman dan statistik, kata dr Andika, memang pasien COVID-19 yang kondisinya berat dan harus menggunakan ventilator itu memiliki angka keberhasilan tidak begitu tinggi.

Yang dimaksud berhasil adalah ketika pasien sudah tidak membutuhkan bantuan ventilator lagi untuk bernapas atau bisa dilakukan proses pengurangan bantuan mesin itu untuk bernapas secara perlahan.

Tanpa COVID-19 pun, tegasnya, ventilator sudah memiliki risiko karena proses intubasi berarti memasukkan benda asing ke dalam tubuh akan menyebabkan munculnya risiko infeksi.

Baca juga: BUMN siap beli ventilator lokal untuk tangani COVID-19
Baca juga: Menristek: Ventilator portabel untuk tangani COVID-19 diuji Kemenkes
Baca juga: UI siapkan ventilator transport lokal rendah biaya
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020