BKKBN antisipasi "baby boom" karena penggunaan KB menurun

BKKBN antisipasi

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (13/3/2020). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Jakarta (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengantisipasi ledakan angka kelahiran atau baby boom karena penggunaan KB yang menurun saat terjadi pandemi COVID-19.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan terdapat penurunan peserta KB pada bulan Maret dibandingkan Februari 2020 di seluruh Indonesia.

Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim atau biasa disebut IUD pada Februari sejumlah 36.155 turun menjadi 23.383 di bulan Maret. Sedangkan KB implan dari 81.062 turun menjadi 51.536, KB suntik dari 524.989 menjadi 341.109, KB metode pil dari 251.619 menjadi 146.767, penggunaan kondom dari 31.502 menjadi 19.583, vasektomi untuk pria dari 2.283 menjadi 1.196, dan tubektomi untuk wanita dari 13.571 menjadi 8.093.

Baca juga: BKKBN tetap lakukan penyuluhan di tengah wabah COVID-19

Menurut Hasto dampak dari pandemi COVID19 juga berakibat kepada penurunan aktivitas dalam beberapa kelompok kegiatan program KB serta penurunan mekanisme operasional di lini lapangan, termasuk di Kampung KB. Dia mengatakan banyak para akseptor KB yang merasa takut ketika hendak mengakses pelayanan KB di masa pandemi COVID-19.

“Pelayanan KB yang sangat berdampak akibat COVID-19 ini dikarenakan KB sendiri pelayanannya yang ada sekarang adalah dengan Baksos, sosialisasi oleh Penyuluh Keluarga Berencana, dan juga kader-kader. Jadi sangat kontak secara penuh atau people to people contact atau person to person. Sehingga ketika ada physical distancing atau social distancing maka jelas akan menurun pelayanan itu,” jelas Hasto.

Oleh karena itu Hasto membuat beberapa langkah untuk mengantisipasi hal tersebut, yaitu melakukan pembinaan kesertaan ber-KB dan pencegahan putus pakai melalui berbagai media terutama media daring, melakukan analisis melalui kader institusi masyarakat pedesaan untuk mengetahui jumlah dan persebaran pasangan usia subur yang memerlukan pelayanan suntik KB, iil KB, IUD dan implan, mendistribusikan kontrasepsi ulangan pil dan kondom.

Baca juga: BKKBN usulkan UU Keluarga Nasional tanpa mengatur privasi

Selanjutnya persiapan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan KB serta pembinaan kesertaan ber-KB termasuk KIE dan Konseling menggunakan media daring dan medsos atau kunjungan langsung dengan memperhatikan jarak ideal, dan bidan berperan sebagai pengawas dan pembina dalam hal distribusi alat kontrasepsi yang dilakukan oleh PKB/PLKB.

Hasto berharap besar kepada para provider kesehatan seperti para bidan dan dokter untuk terus memberikan masukan dan kritik atas kebijakan-kebijakan yang telah BKKBN buat selama pandemi COVID-19. Hal ini dikarenakan untuk mengantisipasi gelombang baby boom baru di masa yang akan datang serta permasalahan-permasalahan kependudukan lainnya yang telah disebutkan di atas.

Baca juga: Ikatan Bidan Indonesia Kalbar dibantu ribuan APD oleh BKKBN
Baca juga: BKKBN komitmen digitalisasi arsip manfaatkan "big data" keluarga
Baca juga: Cegah COVID-19, BKKBN Sumsel bantu APD untuk 12.218 bidan
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020