Dokter paru: ada kemungkinan 'negatif palsu' pada hasil PCR

Dokter paru: ada kemungkinan 'negatif palsu' pada hasil PCR

Dokter paru Rumah Sakit Persahabatan dr. Andika Chandra Putra berbicara dalam sebuah acara yang diselenggarakan Pwrhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Jakarta, Kamis (19/9/2019. (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Dokter paru Rumah Sakit Persahabatan dr. Andika Chandra Putra menyebutkan kemungkinan adanya false negative atau negatif palsu pada hasil pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) terhadap pasien yang diduga terpapar COVID-19.

"Jadi PCR itu pun masih ada gap false negativenya. Jadi jangan bayangkan PCR itu hasilnya akan 100 persen akurat," katanya melalui sambungan telepon kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan ada banyak faktor yang menyebabkan hasil pemeriksaan PCR tidak 100 persen akurat.

"Faktornya yang pertama bisa dari cara pengambilan swab. Bahan yang diambil tidak dikuatkan," katanya.

Kemudian, faktor lainnya adalah pada waktu pengambilan swab.

Baca juga: 50.000 alat uji PCR diproduksi akhir Mei 2020 guna deteksi COVID

Ia menjelaskan bahwa pada awal infeksi, virus SARS-CoV-2, penyebab penyakit COVID-19, biasanya masih berada di saluran napas atas. Tetapi ketika virus tersebut sudah masuk ke paru-paru, maka virus tersebut tidak dapat lagi dideteksi dengan pemeriksaan PCR yang biasanya dilakukan dengan swab tenggorokan.

"Artinya ketika virusnya sudah masuk ke paru-paru, virus tersebut tidak terdeteksi lagi lewat pengambilan bahan dari tenggorokan karena dia sudah masuk ke paru-paru," katanya.

Ia mengatakan berdasarkan penelitian yang membandingkan bahan pemeriksaan pada pasien yang diduga terpapar COVID-19, ada beberapa cara pemeriksaan yang memiliki hasil lebih akurat untuk mengetahui kemungkinan paparan COVID-19 dalam tubuh manusia.

Cara pemeriksaan yang dibandingkan tersebut antara lain dengan pemeriksaan bronkus, pharyngeal test atau tes swab faring, naso swab dan juga swab dari dahak.

Berdasarkan penelitian tersebut, ia menyebutkan bahwa bilasan bronkus dari pemeriksaan bronkus atau paru memiliki tingkat akurasi positif yang lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan lainnya, yaitu sekitar 93 persen.

"Sedangkan dari faring tadi, dari tenggorokan tadi hanya 60 sampai 70 persen. Artinya masih ada gap 30 persen yang memberikan kemungkinan false negative," katanya.

Baca juga: Konsorsium COVID-19 kembangkan RDT LAMP setara PCR deteksi COVID-19

"Jadi yang kita maksud dengan false negative ini sebenarnya virusnya ada tetapi hasil PCR-nya negatif," kata dia lebih lanjut.

Oleh karena itu, agar hasil pemeriksaan PCR memberikan akurasi yang lebih baik, maka pemeriksaan tersebut harus dilakukan secara berulang.

Kemudian, jika memungkinkan, pemeriksaan bronkus, kata dia, sebenarnya bisa dilakukan. Namun demikian, tindakan tersebut biasanya hanya dilakukan pada pasien-pasien yang sudah tidak sadar atau sudah terpasang ventilator.

Ia mengatakan hasil negatif palsu tersebut sebenarnya tidak hanya banyak terjadi di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain secara global.

"Itu memang masih menjadi problem di dunia kedokteran. Karena memang banyak laporan-laporan false negative ini. Jadi false negative ini bukan hanya di Indonesia saja, tetapi di banyak negara. Bahkan di China, di Amerika, banyak laporan tentang hasil false negative," katanya.

Menurut dia, yang ideal untuk menghasilkan hasil yang akurat tersebut adalah dengan kultur virus yang hanya dapat dilakukan di fasilitas Biosafety Level-3 (BSL-3), di laboratorium yang benar-benar steril.

Baca juga: Ketua gugus tugas: Tes COVID-19 masih terkendala sumber daya manusia
Pewarta : Katriana
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020