Fanatisme bagai pedang bermata dua bagi idola

Fanatisme bagai pedang bermata dua bagi idola

Jelang Konser B1A4 Kelompok boyband asal Korea Selatan, B1A4 saat jumpa pers di Jakarta, Senin, (11/3). Boyband yang memiliki penggemar dengan sebutan Bana ini akan menggelar konser mininya pertama di Indonesia bertajuk "1st Baba B1A4 Showcase" pada 12 Maret 2013 di Skenno Hall, Gandaria City. Jakarta. (FOTO ANTARA/Teresia May)

Jakarta (ANTARA) - Banyak faktor yang menjadi penentu eksistensi dan kesuksesan yang diraih seorang selebritas dalam kerasnya industri hiburan, salah satu yang berperan adalah dukungan dan loyalitas dari penggemar.

Dalam industri hiburan yang begitu gemerlap, kehadiran penggemar bisa menjadi penggerak roda bisnis dan penghasil pundi-pundi bagi sang idola. Maka tak heran hubungan antara penggemar dan idola tidak bisa dilepaskan begitu saja.

Sejarah pun mencatat kemunculan The Sherlockian, yang dianggap sebagai komunitas penggemar loyal pertama di era modern.

Baca juga: JYP Entertainment bawa kasus "sasaeng fans" GOT7 ke ranah hukum

Baca juga: Kisah cinta John Lennon dan Yoko Ono siap jadi film baru


The Sherlockian merupakan komunitas penggemar loyal yang peduli pada segala hal tentang Sherlock Holmes. Komunitas ini sudah ada pada awal tahun 1900, dan semakin berkembang setelah Sir Arthur Conan Doyle meninggal dunia pada tahun 1930.

Di kalangan musisi independen, para penggemar loyal juga lazim memiliki fanzine (fans magazine) atau majalah yang dikelola langsung oleh penggemar atau komunitas musik.

Kini, seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi digital para penggemar dapat dengan mudah membuat akun media sosial yang dikhususkan untuk membahas serba-serbi artis idolanya.

Para idola yang sadar akan besarnya peran penggemar biasanya sering membuat aktivitas atau kegiatan yang melibatkan mereka. Meski demikian, kehadiran para penggemar ini juga bisa menjadi pedang bermata dua bagi sang idola apabila sudah terlalu fanatik.

Fanatisme buta

Contoh fanatisme buta antara penggemar terhadap idola yang paling terkenal datang dari kisah tewasnya John Lennon. Pentolan band The Beatles itu ditembak oleh David Chapman yang mengaku sebagai penggemar beratnya pada 8 Desember 1980 di New York, Amerika Serikat.

Ironinya sebelum mengeksekusi, David Chapman meminta John Lennon membubuhkan tanda tangan di album "Double Fantasy". Saat John Lennon hendak memasuki gedung apartemen, David memanggil sang bintang sambil mencabut revolver kaliber 38 dan menembaknya empat kali hingga nyawa John melayang di usianya yang ke-40.

Fanatisme buta dari penggemar juga menghantui industri hiburan di Korea Selatan. Mereka dengan kebiasaan ini dikenal dengan sebutan sasaeng atau penggemar yang sangat obsesif terhadap idolanya.

Baca juga: Lima selebritas dunia yang pernah jadi korban kenekatan penggemar

Baca juga: Dikuntit warga asing, Twice kini dilindungi pihak kepolisian


Kesan negatif kerap disandingkan kepada sasaeng. Sebab, para penggemar tipe ini bisa bertindak nekat seperti mengikuti sang idola kemanapun hingga mencampuri ranah pribadi.

Sudah banyak idola K-Pop yang menjadi korban dari sasaeng, salah satunya seperti yang dialami oleh Donghae Super Junior.

Donghae pernah mengunggah video pendek di Instagram story yang menunjukkan nomor-nomor tidak dikenal menelponnya berkali-kali. Bahkan akibat ulah sasaeng itu, Donghae sampai memohon untuk tidak menelponnya lagi dan berhenti mengganggu privasinya.
Unggahan Donghae Super Junior. (Instagram/@leedonghae)


Di Indonesia kejadian yang masih hangat diperbincangkan adalah kasus yang menimpa Via Vallen. Mobil mewah milik penyanyi dangdut itu dibakar oleh seorang penggemar fanatik berinisial PJ pada Selasa (30/6) pagi.

Mella Rossa yang juga merupakan adik dari Via Vallen mengatakan kejadian terbakarnya mobil mewah berjenis Toyota Alphard itu terjadi saat menjelang subuh. Dia mengaku saat itu mendengar teriakan keras dari sang kakak yang histeris karena mobilnya terbakar.

Baca juga: Mobil mewah Via Vallen terbakar

Baca juga: Polisi Sidoarjo selidiki motif terbakarnya mobil Via Vallen


"Kejadiannya (pukul) 03.20 jadi hampir subuh. Pada saat itu saya posisi lagi tidur, tiba-tiba ada teriakan dari pihak saudara saya itu mbak Seli dan teteh saya (Via Vallen), menyusul teteh saya teriak sambil histeris gitu, saya shock tiba-tiba langsung bangun," kata dia.

Mella menggambarkan suasana saat itu dalam kondisi panik karena api yang melahap mobil semakin membesar hingga nyaris merambat ke rumah.

Dia menambahkan bahwa sebelum kejadian, salah satu kru sempat melihat orang asing mondar-mandir di dekat rumah Via Vallen meski tidak tahu dengan pasti apa tujuannya.

"Pada saat itu teteh lagi syuting video di dalam garasi jadi di-setting seperti kayak panggung. Jadi mobilnya otomatis dikeluarkan semua, jadi posisinya di pinggir rumah, bukan di jalan raya," terang Mella.

Tak lama dari kejadian itu, pelaku pun berhasil diringkus pihak kepolisian. Dari hasil pemeriksaan diketahui motif sementara pelaku karena sakit hati tidak bisa bertemu dengan penyanyi dangdut idolanya tersebut.

Gangguan psikologis

Psikolog Intan Erlita mengatakan sikap fanatisme berlebihan yang ditunjukkan oleh penggemar terhadap idolanya ternyata bisa dikategorikan sebagai gangguan psikologis.

"Ya kalau sudah mengganggu atau bahkan sudah menimbulkan kecelakaan itu sudah ada yang namanya gangguan. Tapi gangguannya apa, perlu ada pemeriksaan lebih lanjut," kata Intan Erlita.

Intan menjelaskan bahwa sikap fanatisme berlebihan penggemar bisa terjadi karena rasa memiliki yang terlampau besar sehingga apabila sang idola tidak memberikan respon sesuai yang diharapkan dapat menimbulkan rasa marah, cemburu, hingga dendam.

Menurut Intan, biasanya sikap fanatisme berlebihan seorang penggemar kepada idolanya dapat timbul dari hal-hal yang kecil hingga dapat berkembang menjadi hal yang besar dan parahnya sampai menyebabkan kematian.

"Beberapa kasus bahkan sampai ada yang ditembak gitu kan. Memang karena rasa memilikinya besar, tapi dia tidak bisa memiliki, ya mending dia mati aja biar enggak ada siapapun yang memiliki dia. Jadi udah enggak rasional pemikirannya," kata Intan menjelaskan.

Baca juga: Dituding rekayasa, Via Vallen buka suara soal mobilnya yang terbakar

Baca juga: Kapolresta: Pelaku sakit hati tak bisa bertemu Via Vallen


Intan mengatakan menggemari sosok atau artis pujaan bukan tindakan yang salah. Namun hal itu menjadi masalah jika sudah terlampau berlebihan dan tidak rasional dalam memperlakukan sang idola.

Jika sudah begitu, Intan menilai perlu adanya tindakan tegas dari sang idola kepada penggemar fanatiknya yang dianggap dapat membahayakan keselamatan dan nyawa.
Mobil Alphard Via Vallen usai dibakar penggemar. (ANTARA Jatim/HO)


"Kalau sudah dikasih tahu baik-baik enggak bisa apalagi kayak udah mulai nyamperin ke mana aja, mungkin sudah mulai bisa menghubungi pihak kepolisian karena sudah ada rasa ketidaknyamanan, kan itu boleh untuk melaporkan walaupun tidak langsung dibawa ke ranah hukum," ungkap wanita kelahiran 39 tahun silam itu.

"Itu bentuk proteksi kepada diri. Kan kalau di luar negeri artis juga pakai bodyguard ya, tandanya itu kan mereka terancam sama haters atau fans garis keras," sambung dia.

"Tetapi kalau belum merugikan, hanya sebatas verbal aja dan si fans ini merasa ada yang salah sama dia, dan lingkungannya juga merasa ada yang salah sama diri dia, baiknya keluarganya membawa ke psikolog atau psikiater karena ibaratnya harus ada yang di normalkan kembali dari pola pikir dia," kata Intan menegaskan.

Menurut dia, dukungan dari pihak keluarga dan orang terdekat sangat dibutuhkan bagi mereka para penggemar yang sudah terlalu fanatik berlebihan terhadap idolanya agar bisa sembuh.

"Perilaku menyimpang itu penyembuhannya dari diri sendiri dan keluarga sebagai support system-nya kalau psikolog dan psikiater atau dokter itu cuma support system selanjutnya," tutur Intan.

Baca juga: Penjelasan psikolog soal fanatisme berlebihan

Baca juga: Youngjae GOT7 kembali peringati "sasaeng" karena langgar privasinya

Baca juga: Bandara Incheon, saksi bisu kelakuan idola K-pop dan penggemar
Pewarta : Yogi Rachman
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020