Gapki catat ekspor minyak sawit turun 8,3 persen, terbesar ke China

Gapki catat ekspor minyak sawit turun 8,3 persen, terbesar ke China

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sarjono (tengah) meninjau paviliuan Indonesia di sela konferensi sawit internasional Pakistan Edible Oil (PEOC ) 2020 di Karachi Pakistan, Sabtu (11/1/2020) (Dokumentasi Gapki)

Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat ekspor minyak sawit dan olahannya pada Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 8,3 persen menjadi 2,4 juta ton dibandingkan bulan April 2020.

Penurunan ekspor tersebut terjadi pada CPO turun sebesar 15 persen (96.000 ton) menjadi 515.000 ton dan olahan CPO turun 8,6 persen (139.000 ton) menjadi 1,46 juta ton. Sementara ekspor PKO dan olahan PKO tumbuh 10 persen (13.000 ton) menjadi 142.000 ton dan oleokimia tumbuh tipis 0,3 persen (1.000 ton) menjadi 312.000 ton.

"Penurunan ekspor terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan oleh selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil," kata Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Sasar Afrika, pengusaha sawit fokus ekspor CPO dalam kemasan kecil

Mukti merinci penurunan ekspor CPO pada Mei terbesar terjadi dengan tujuan China sebesar 21 persen (87.700 ton); Uni Eropa sebesar 16,62 persen (81.500 ton), Pakistan turun 23,4 persen (47.000 ton) dan ke India sebear 9,2 persen (38.600 ton).

Menurut dia, penurunan ekspor ke China disebabkan meningkatnya pabrik "oilseed crushing" khususnya untuk kedelai yang cukup besar sehingga pasokan minyak nabati China masih tinggi.

Meskipun terjadi penurunan ekspor, ada beberapa negara tujuan ekspor yang menunjukkan kenaikan seperti Mesir yang naik 81 persen (42.000 ton) dari ekspor April 2020, Ukraina -meningkat 99 persen (31.000 ton), Filipina naik 73 persen (29.000 ton), Jepang sebesar 35 persen (19.000 ton) dan ke Oman sebesar 85 persen (15.000 ton).

Baca juga: Gapki minta pemerintah tak wajibkan kapal nasional untuk ekspor

Ada pun untuk harga CPO masih menunjukkan penurunan dari rata-rata 564 dolar AS pada bulan April menjadi 526 dolar AS per ton-Cif Rotterdam pada Mei. Demikian juga dengan nilai ekspornya turun 165 juta dolar AS menjadi 1,47 miliar dolar AS.

Mukti menjelaskan permintaan minyak nabati dunia diperkirakan mulai naik, seiring dengan kegiatan perekonomian China, India dan sejumlah negara lain yang mulai pulih.

"Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga kedepan permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel," kata Mukti.

 
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020