Ada mutasi virus Inggris, IDI ingatkan warga Aceh tak renggang prokes

Ada mutasi virus Inggris, IDI ingatkan warga Aceh tak renggang prokes

Arsip Foto - Ketua IDI Aceh dr Safrizal Rahman menjalani penyuntikan vaksin COVID-19 di RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh, Jumat (29/1/2021). (FOTO ANTARA/Khalis Surry)

Banda Acehq (ANTARA) - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh meminta masyarakat provinsi paling barat Indonesia itu tidak merenggangkan penerapan proktol kesehatan (prokes), mengingat pandemi COVID-19 belum berakhir, apalagi mulai terdeteksi mutasi virus corona varian asal Inggris B.1.1.7  sudah masuk di Tanah Air.

“Yang pasti COVID ini belum berakhir, tidak ada yang deklarasi bahwa COVID sudah selesai, bahkan secara nasional masih memiliki kasus baru, dan sudah terdeteksi ada kasus mutasi baru ya,” kata Ketua IDI Aceh dr Safrizal Rahman di Banda Aceh, Rabu.

Untuk Aceh,kata dia, penambahan kasus COVID-19 memang semakin landai, namun bukan berarti pandemi COVID-19 yang menyerang paru-paru manusia itu sudah berakhir.

IDI menilai penerapan protokol kesehatan meliputi memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan (3M) di tengah masyarakat juga sudah semakin renggang, sehingga menjadi kekhawatiran peningkatan kasus baru secara drastis.

Hingga Rabu, data Dinas Kesehatan Aceh, kasus COVID-19 di Aceh telah mencapai 9.570 orang, di antaranya pasien yang telah sembuh 7.846 orang, 385 orang telah meninggal dunia dan 1.339 orang masih dalam perawatan medis atau isolasi mandiri.

“Artinya memang COVID belum selesai. Kita harus waspada, barang kali mungkin kasus COVID banyak di antara kita, mungkin masyarakat sudah tidak terlalu peduli lagi,” katanya.

Apalagi, kata dia, di Indonesia sudah terdeteksi kasus mutasi virus corona, B.1.1.7 asal Inggris.

Menurut Safrizal, langkah antisipasinya sama dengan virus varian lama, tetap dengan mematuhi prokes, cara penularannya juga sama melalui droplet (cipratan), namun jangka waktu penularan lebih cepat.

Ia mengatakan virus mutasi ini lebih gampang menular, tingkat penularannya lebih cepat dari yang varian biasa, tetapi secara klinis sama.

“Misalnya kalau jumpa varian lama 15 menit, langsung tertular, ini mungkin akan lebih cepat, jadi kemampuan menularnya lebih cepat,” katanya menegaskan.

Upaya pencegahannya sama seperti COVID-19 asal Kota Wuhan, China.

“Tidak ada beda, hanya saja kita kurang menegakkan protokol kesehatan, itu saja masalahnya. Tegakkan prokes, kemudian vaksinasi, Insya Allah ini bisa kita atasi,” kata Safrizal Rahman.

Sebelumnya, diketahui varian mutasi virus corona B 117 ditemukan di Indonesia melalui kegiatan pengurutan genom virus menyeluruh (whole genom sequencing) pada sampel virus corona penyebab COVID-19 yang bertransmisi di Indonesia.

Dari 462 WGS yang dilakukan, diidentifikasi dua kasus di antaranya mengandung varian baru asal Inggris itu, pada Senin (1/3) malam.

Inggris mengumumkan penemuan strain baru SARS-CoV-2 hasil mutasi dengan nama B 117 pada akhir 2020.

Baca juga: Pemerintah telusuri kontak erat kasus positif mutasi COVID-19 B117

Baca juga: Gubernur Jabar: Mutasi virus vorona B.1.1.7 sudah masuk Karawang

Baca juga: Dinkes Kabupaten Bekasi: Waspadai mutasi virus Corona B.1.1.7

 
Pewarta : Khalis Surry
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021