Tiga sekretaris pribadi ceritakan awal kerja dengan Edhy Prabowo

Tiga sekretaris pribadi ceritakan awal kerja dengan Edhy Prabowo

Terdakwa kasus suap izin ekspor benih lobster tahun 2020 Edhy Prabowo memijat keningnya saat mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (18/5/2021). Agenda sidang dari terdakwa mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut adalah mendengarkan keterangan dari sembilan orang saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj/pri.

Jakarta (ANTARA) - Tiga orang sekretaris pribadi (sespri) mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yaitu Anggia Tesalonika Kloer, Putri Elok Sukarni dan Fidya Yusri menceritakan awal mula mereka bekerja dengan politikus Partai Gerindra tersebut.

"Saya menjadi sespri sejak 28 Juni 2020. Saya tahu info bapak butuh sespri dari kakak saya yang merupakan kader Gerindra dan dia usulkan agar saya coba kirim CV ke Bu Putri Tjatur selaku staf khusus bapak," kata Anggia di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa.

Anggia menjadi saksi untuk lima terdakwa yaitu Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhy Prabowo), Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy), Ainul Faqih (sespri Iis) dan Siswadhi Pranoto Loe (pemilik PT Aero Cipta Kargo) yang didakwa bersama-sama menerima 77 ribu dolar AS dan Rp24,625 miliar sehingga totalnya mencapai sekitar Rp25,75 miliar dari para pengusaha pengekspor benih benih lobster (BBL) terkait pemberian izin budidaya dan ekspor.

"Saya disuruh datang ke Jakarta, wawancara dengan Pak Safri kemudian masuk kerja mulai 28 Juni dan saya keluar 6 Juli 2020," katanya.

Selanjutnya Putri Elok juga mengaku mulai bekerja pada 28 Juni 2020 bersama dengan Anggi.

"Sejak 2014-2019 sebenarnya saya sudah jadi staf Pak Edhy di DPR tapi saat Pak Edhy jadi menteri saya tidak ikut, barulah pada awal Januari Pak Edhy minta saya bergabung membantu di kementerian menjadi sekretaris karena saat itu baru ada mas Amiril dan Lukman sedangkan Bu Putri selaku stafsus malah jadi ikut bantu kerja tupoksi sekretaris," kata Putri Elok.

Namun Putri Elok menyebutkan sejumlah halangan yang membuat ia awalnya enggan bergabung sebagai sekretaris di KKP karena jam kerja di KKP yang tidak menentu, ia yang masih menjadi staf fraksi Gerindra di Komisi I DPR, lokasi rumahnya yang jauh dari KKP dan belum menyelesaikan tesis.

Baca juga: Istri Edhy Prabowo berbelanja jam, tas, dan syal di tiga kota di AS
Baca juga: Istri dan tiga sespri Edhy Prabowo hadir sebagai saksi dalam sidang
Baca juga: Saksi akui serahkan Rp2,6 miliar kepada stafsus Ehdy Prabowo


"Tapi mas Amir mengatakan untuk urusan tempat tinggal akan dicarikan, saya belum kepikiran akan dicari apartemen dan saat setelah lebaran bertemu bapak, bapak juga mengatakan akan diatur hanya saya tidak tanya lagi jadi akhirnya pada 28 Juni saya mulai masuk ke kementerian," ungkap Putri Elok.

Saat itu sudah ada Amiril, Lukman dan Fidya yang menjadi sespri Edhy.

"Kalau saya masuk 10 Februari 2020. Saya kenal Pak Edhy dari SMP karena beliau atasan ayah saya di Partai Gerindra. Pada akhir 2020 ada pertemuan kantor DPD Gerindra di Palembang lalu bertemu dengan Pak Edhy dan Ibu (Iis) dan saya ditanya apa sudah selesai kuliah dan siap bekerja karena lumayan untuk cari pengalaman," kata Fidya.

Fidya lalu mengiyakan ajakan Edhy tersebut. Ia kemudian menjalani wawancara di Jakarta pada 4 Februari 2020 dengan Safri tapi masih belum tahu akan dijadikan sespri.

"Partner saya saat itu adalah Mas Lukman dan Mbak Putri Tjatur di ruang sekretariat baru beberapa minggu kemudian bertemu Amiril walau awalnya belum tahu dia juga sespri," ungkap Fidya.

Baik Angia, Putri Elok dan Fidya bekerja di bawah pengawasan Putri Tjatur.

"Pak Menteri ingin saya tentir adik-adik ini agar saya tidak perlu lagi mengerjakan tugas kesekretariatan khusus untuk Pak Menteri namun masih dalam proses, adik-adik saya latih melakukan pekerjaan yang selama ini saya lakukan dalam mendampingi administrasi Pak Menteri," kata Putri Tjatur.

Putri Tjatur sudah menjadi staf Edhy sejak 2004 saat Edhy menjadi direktur utama perusahaan perkayuan di Aceh.

"Setelah itu beliau membantu pembentukan Partai Gerindra dan terpilih sebagai anggota DPR mewakili Sumatera Selatan 1 pada 2009 lalu terpilih lagi pada 2014 dan menjadi ketua Komisi IV dan saya diminta untuk mendampingi sebagai tenaga ahli," ungkap Putri Tjatur.

Setelah Edhy ditunjuk sebagai Menteri KP, Putri Tjatur juga ikut pindah ke KKP.

"Walau SK-nya berproses dan baru terbit Januari 2020, tugas saya adalah administrasi, menyortir surat internal, eksternal jadi saya lebih ke tata usaha," ungkap Putri Tjatur.

 
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2021