OJK ingatkan Holding BUMN Ultra Mikro perhatikan tata kelola yang baik

OJK ingatkan Holding BUMN Ultra Mikro perhatikan tata kelola yang baik

Tangkapan layar - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen saat memberikan sambutan dalam pembukaan perdagangan BEI dalam rangka right issue BRI di Jakarta, Rabu (29/9/2021). ANTARA/Citro Atmoko/am.

Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan Holding BUMN Ultra Mikro yang terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (PMN), untuk memerhatikan tata kelola yang baik dalam menjalankan bisnisnya.

"Saya hanya mengingatkan untuk BRI, PNM, dan Pegadaian, dari bisnis modelnya akan banyak sekali terjadi transaksi afiliasi, transaksi yang cukup material, dan transaksi yang punya benturan kepentingan. Mungkin itu bagian dari governance dan harapan ke depan BUMN ke depan akan jadi lebih profesional dan dikembangkan jadi seperti korporasi yang sangat baik. Mudah-mudahan perhatian terhadap governance, terhadap risiko itu, semakin tinggi," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen dalam pembukaan perdagangan BEI dalam rangka right issue BRI di Jakarta, Rabu.

Hoesen menyampaikan saat ini kerangka kerja pengawasan OJK tidak hanya bertumpu pada pengawasan karena telah terbukti bahwa perusahaan yang bisnisnya bisa terus berlangsung dalam jangka panjang adalah perusahaan yang memiliki kepatuhan (compliance) dan manajemen risiko (risk management) yang baik.

"Bahwa pertumbuhan kadang-kadang tiap tahun bisa naik bisa turun, tapi kalau kita mau jalan jauh ya memang harus bicara governance dan bicara risk management, di samping tadi bicara mengenai performance financial," ujar Hoesen.

Baca juga: Dirut BRI: Rights issue BRI "oversubscribed" 1,53 persen

BRI telah merampungkan aksi penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Rights issue BRI mencatatkan sejarah baru dalam pasar modal Indonesia dengan jumlah HMETD yang mencapai 28,2 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp96 triliun.

Rights issue yang dilakukan BRI tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia dan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, serta menduduki peringkat tiga tertinggi di Asia dan masuk tujuh besar di seluruh dunia sejak 2009. Hoesen pun mengapresiasi capaian tersebut.

"Kita bersyukur proses rights issue sukses luar biasa dan prosesnya juga sangat baik dan ini menjawab keraguan dari para investor, para pengamat, dan juga terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan, bahkan keraguan terhadap pemulihan ekonomi di Indonesia. Memang base economy kita ke depan kelihatannya akan lebih bertumpu pada pertumbuhan di UMKM-nya dan ini juga merupakan hal yang akan kita terus dorong dari OJK dan kita akan sangat support terhadap pengembangan UMKM ini," kata Hoesen.

Selain untuk pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro, inisiatif besar melalui rights issue juga merupakan bagian dari upaya perseroan mencapai visi besar untuk menjadi The Most Valueable Banking Group di Asia Tenggara. Hoesen meyakini hal tersebut bisa dicapai.

"Mudah-mudahan apa yang sekarang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN dan juga dari korporasi kita, mengarah ke arah yang benar dan kita akan dukung sama-sama supaya ini jadi kenyataan bahwa kita bisa jadi yang terbesar di ASEAN paling tidak tahap pertama, kemudian di global atau di Asia," ujar Hoesen.

Baca juga: Erick Thohir: Rights issue BRI bukti Indonesia punya pasar yang besar

 
Pewarta : Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021