Banjarbaru, Kalimantan Selatan (ANTARA News) - Dalam sembilan bulan, sepanjang Januari hingga September tahun ini, luas lahan dan hutan yang terbakar di wilayah Kota Banjarbaru mencapai 511 hektare, mayoritas daerah gambut dan lahan kosong.

"Itu tersebar di sejumlah daerah rawan karhutla (kebakaran hutan-lahan), terutama lahan gambut yang sangat mudah terbakar di musim kemarau," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru Ahmad Syarief Nizami di Kota Banjarbaru, Senin.

Dia merinci bahwa sejak 1 Januari hingga 23 September 2018 telah terjadi 147 kali kebakaran hutan dan lahan, paling banyak di Kecamatan Landasan Ulin dan Liang Anggang.

"Dua kecamatan itu memang banyak lahan kosong, termasuk lahan gambut yang sangat mudah terbakar, bahkan jika sudah terbakar maka sangat sulit untuk memadamkannya," katanya.

"Lahan gambut di kawasan Guntung Damar susah dipadamkan dan sering terbakar," ia menambahkan.

Nizami, yang juga menjabat Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kota Banjarbaru, menyebut daerah Pengayuan di Kecamatan Liang Anggang sebagai area yang rawan terbakar.

"Kawasan pengayuan memang sudah menjadi langganan terbakar jika musim kemarau, sehingga kami selalu waspada dan menyiapkan personel serta peralatan untuk memadamkan api," ujarnya.

Ia menjelaskan upaya pemadaman melibatkan personel BPBD, aparat TNI dan Polri serta relawan Manggala Agni.

"Jika luasan lahan terbakar melebihi tiga hektare, kami menurunkan seluruh personel gabungan sebanyak 30 orang, termasuk peralatan pendukung untuk memadamkan api," katanya.

Baca juga: Kabut asap selimuti perkotaan Banjarbaru
 

Pewarta: Yose Rizal
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2018