Partai berkuasa di Aljazair beralih haluan sementara protes memuncak

Partai berkuasa di Aljazair beralih haluan sementara protes memuncak

Sejumlah pelajar ikut serta dalam protes mengecam keinginan Presiden Abdelaziz Bouteflika untuk mencalonkan diri pada pemilu bulan depan tetapi tidak melayani masa jabatan penuh bila terpilih kembali, di Algiers, Aljazair, Selasa (5/3/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Zohra Bensemra/djo

Aljier (ANTARA) -  Ribuan pengunjuk rasa berkumpul di Aljier, Ibu Kota Aljazair, pada Jumat guna menuntut Presiden Abdelaziz Bouteflika mundur, terus menekan setelah partai FLN --yang berkuasa-- menunjukkan tanda-tanda lagi berpaling dari presiden itu.

Bouteflika pada Senin membatalkan keputusan untuk mencalonkan diri lagi buat masa jabatan berikut setelah protes-protes massal menentang kekuasaannya, tapi tetap belum mau mundur dan mengatakan dia akan tetap di posisinya hingga sebuah konstitusi baru disetujui.

Ia telah kehilangan sekutu-sekutu dalam beberapa hari belakangan sejak kembali ke negaranya setelah mendapat perawatan kesehatan di Swiss.

Seorang tokoh FLN mengatakan dalam wawancara pada Kamis malam, presiden yang sudah berkuasa lama itu adalah "sejarah sekarang".

Pernyataan yang disampaikan Hocine Kheldoun kepada televisi Annahar merupakan kemunduran lain Bouteflika, yang berharap menenangkan rakyat Aljazair dengan menjanjikan akan mengambil langkah-langkah mengubah panggung politik yang telah didominasi oleh elit berkuasa selama beberapa dekade.

Kheldoun, mantan juru bicara partai yang berkuasa, menjadi salah satu pejabat senior FLN memutuskan hubungan dengan Bouteflika secara terbuka, dengan menyatakan partai itu harus melihat ke depan dan mendukung tujuan-tujuan dari unjuk rasa yang memprotes Bouteflika.

"Mereka yang berpendapat kami sudah bosan salah. Protes-protes kami tak akan berhenti," kata Madjid Benzida, 37 tahun, di tengah kehadiran personel polisi yang cukup besar di ibu kota.

Baca juga: Puluhan ribu orang tuntut Presiden Aljazair mundur

Sejumlah orang tua membawa serta anak-anak mereka. "Saya ingin masa depan yang lebih baik," kata Mohamed Kemime, 10 tahun, sambil mengibarkan bendera nasional.

Puluhan ribu warga Aljazair telah mengadakan aksi-aksi protes damai selama beberapa pekan; mereka menginginkan era baru dengan para pemimpin lebih muda yang akan menawarkan kebebasan sosial lebih besar dan kesejahteraan.

"Bouteflika dan orang-orangnya harus mundur sesegera mungkin," kata Yazid Ammari, 23 tahun, mahasiswa.

Salah seorang ulama berpengaruh di Aljazair menyeru rakyat agar bersabar.

"Marilah kita bersikap optimistis, Aljazair perlu mengatasi krisisnya," kata Mohamed Abdelkader Haider dari satu masjid di Aljier.

Bouteflika, 82 tahun, telah berkuasa selama 20 tahun tetapi jarang tampil di depan umum sejak menderita stroke tahun 2013. Para pengunjuk rasa mengatakan dia tak lagi dalam keadaan sehat untuk memerintah.

Perdana Menteri yang baru Noureddine Bedoui mengatakan pada Kamis, ia akan membentuk pemerintahan sementara yang beranggota para teknokrat dan lain-lain untuk bekerja menuju perubahan politik, dan mendesak oposisi bergabung dalam sebuah dialog.

Sumber Reuters

 
Pewarta : Mohamad Anthoni
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019