Budaya pop Jepang, digemari dan lekat di hati

Budaya pop Jepang, digemari dan lekat di hati

Ilustrasi - Dua orang "cosplayer" berfoto saat parade cosplay di Festival Jepang di Denpasar, Bali, Minggu (25/3/2018). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Jakarta (ANTARA) - Siang itu, Minggu (30/6), puluhan muda mudi berkumpul di depan panggung acara Naisho Matsuri, Universitas Atma Jaya, Jakarta, sembari membawa tongkat cahaya warna-warni dan bernyanyi bersama band yang tengah membawakan lagu hit dari Jepang.

Sementara itu, tak jauh dari panggung, beberapa anak muda tengah asyik menggambar karakter tokoh animasi Jepang (anime) favoritnya sambil bergumam mengikuti lantunan lagu yang terdengar cukup kencang.

"Berhubung mereka nyanyi lagunya 'Love! Live!', aku sekarang lagi menggambar Eli, salah satu karakter anime itu," kata Reni, salah satu penggemar budaya pop Jepang.

Reni (21) adalah mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Kesenian Jakarta yang sudah menyukai semua hal tentang Jepang sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas.

Hari itu, ia berkunjung ke Atma Jaya untuk menikmati festival musim panas, Naisho Matsuri. Festival itu, hanya satu dari banyak acara kebudayaan Jepang yang digelar di sejumlah kota di Indonesia.

Sambil sesekali menyaksikan pertunjukan band, ia menggambar. Reni lalu bercerita bahwa keinginannya untuk menggambar, mencintai seni, hingga cita-citanya sebagai mangaka, adalah karena hobinya membaca komik dan menonton animasi Jepang sejak kecil.

Menurutnya, banyak orang yang terinspirasi oleh budaya Jepang, baik yang tradisional maupun pop.

Rachma (24) memiliki pendapat yang tak jauh berbeda dari Reni. Gadis yang telah mengakhiri pendidikannya di program studi Sastra Jepang Universitas Atma Jaya itu mengatakan, hal utama yang membuatnya sangat menyukai Jepang adalah budaya pop negeri sakura tersebut.

"Dulu awalnya memang sudah terpapar kartun-kartun Jepang kayak Doraemon, Pokemon, dan sejenisnya. Terus lama-lama aku mulai belajar bahasanya, lalu mantap belajar lebih dalam saat kuliah kemarin," cerita dia.

Ketika ditanya pendapatnya mengapa "Jejepangan", sebutan untuk menggambarkan semua hal yang berbau subkultur Jepang, masih eksis dan mendapat respons yang baik di Indonesia, ia mengaku tidak tahu pasti. Ia hanya menjelaskan, ketika mengenal budaya Jepang, ada "kedekatan" yang terbentuk.

Kedekatan geografis hingga emosi


"Sebuah budaya, biasanya bisa diterima dengan baik karena berada di satu kawasan yang sama," kata Chief Program Officer Cultural Division Japan Foundation, Diana S. Nugroho saat ditemui ANTARA, di kantornya, Senin (1/7).

Jepang dan Indonesia memiliki kesamaan dalam nilai-nilai ketimuran. Jepang sendiri dianggap sebagai salah satu negara Asia yang cukup maju dan mampu bersaing dengan negara-negara lainnya.

"Ini membuat negara-negara Asia, memiliki kekaguman tersendiri kepada Jepang," tutur Diana.

Selain itu, ujarnya, Indonesia sudah sangat biasa dengan kehadiran perbedaan, sehingga menjadi bangsa yang toleran dan bisa menerima budaya dari luar negeri, termasuk tradisi hingga kultur pop Jepang.

"Indonesia bisa bijak menerima budaya dari luar (Jepang), dan mampu melihat ke depan, mengenai kepentingan dan keuntungan yang bisa diperoleh dari hubungan baik antara kedua negara," katanya.
 

Chief Program Officer Cultural Division Japanese Foundation, Diana S. Nugroho (kiri) dan Assistant Program Officer Culture Division Japan Foundation, Isma Savitri (kanan) di Japan Foundation, Jakarta, Senin (1/7/2019). (ANTARA/Dea N. Zhafira)


Di samping Diana, Assistant Program Officer Culture Division Japan Foundation, Isma Savitri ikut membagi pemikirannya mengenai budaya Jepang di Indonesia.

Kultur pop Jepang mulai masuk dan dikenal di Indonesia pada akhir 1990an dan awal 2000an, di mana kartun animasi (anime), drama Jepang (dorama) mulai ditayangkan di televisi lokal, dan komik (manga) masuk ke toko-toko buku.

Dan, budaya pop Jepang itu unik, ujarnya. Karakteristik komik dan ragam jenis animenya punya ciri khas yang tidak dimiliki yang lain.

"Ketertarikan dari keunikan tersebut lalu ditunjang dengan adanya majalah-majalah seputar dunia hiburan Jepang, seperti Animonster yang eksis di awal 2000-an dulu," ujar Vivi.

Pada tahun itu, kehadiran majalah dan tabloid tersebut menjadi angin segar bagi penggemar budaya pop Jepang. Kontennya pun eksklusif karena merupakan hasil terjemahan dari buku dan majalah yang didatangkan langsung dari Jepang.

Ketika era bergeser menjadi serba digital, penggemar Jejepangan memiliki akses tak terbatas terhadap kultur Jepang. Lewat Internet, mereka mengenal costume play (cosplay), gaya dan fesyen terkini, juga lagu-lagu berbagai genre seperti J-Pop, J-Rock, dan anisong.

Setelah mengenal, mereka lalu jatuh hati, dan berlanjut menekuninya.

"Kultur pop ini mampu membuat hobi bukan hanya sekadar hobi, tapi juga pengembangan diri. Misalnya cosplay. Seorang cosplayer harus bisa mengasah keterampilannya membuat kostum, riasan, hingga akting untuk tampil di atas panggung," kata Vivi.
 

Tak tergerus zaman
 

Di tengah budaya pop-nya yang semakin maju dan digemari banyak orang di berbagai belahan dunia, tidak membuat Jepang menyampingkan tradisinya. Terbukti dengan masih banyaknya warga Jepang yang mengenakan yukata pada saat festival musim panas, menghadiri upacara di kuil, atau sesederhana mengikuti upacara teh tradisional.

Diana mengatakan, Jepang sendiri memiliki kekhawatiran akar budayanya akan terlupakan atau punah suatu hari nanti, mengingat derasnya pengaruh teknologi yang berkembang pesat. Namun, pemerintah dan masyarakat terus berupaya menjaganya agar lestari.
 
"Misalnya perajin kipas. Pemerintah menjamin kehidupan mereka asalkan tetap terus membuat kipas handmade. Padahal kalau mau pakai mesin dengan kualitas yang sama pun bisa banget. Tapi itu tidak dilakukan," kata Diana.

Tak hanya itu, pemerintah Jepang juga mengupayakan agar budaya-budaya klasik itu dapat terintegrasi dengan pariwisatanya, sehingga tetap terjaga dan juga menggerakkan roda perekonomian.

Generasi muda di Jepang, lanjut dia, juga turut ambil peran untuk mempromosikan kerajinan tersebut. Sederhana saja, yaitu dengan mengambil gambar, berswafoto dan mengunggahnya ke media sosial mereka. Mudah, murah, tapi dampaknya besar.
 
Penari Jepang Hatsuda Ai (kanan) menunjukkan cara menggunakan Yukata (pakaian tradisional Jepang), saat digelarnya "Nihon Bunkasai" atau Festival Kebudayaan Jepang di kampus I Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar, Rabu (12/3). (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/Koz/nz/14.)


Contoh lain, tiap tahunnya, digelar festival-festival di kuil-kuil yang menampilkan seni tradisional, kuliner dan cenderamata khas tempat tersebut.

Festival itu lalu disiarkan di televisi atau diunggah ke media sosial untuk menarik minat warga Jepang dan wisatawan mancanegara. Bahkan, ada juga anime atau dorama yang mengangkat tema festival itu dalam tayangannya, dengan harapan menggugah minat generasi muda.

Vivi lantas menambahkan, bahwa Jepang berupaya beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk menjaga budaya mereka.

"Misalnya bagaimana tradisi bisa diadaptasi ke anime, dorama, atau bahkan cosplay dengan modifikasi model baju tradisional ke bentuk yang lebih nge-pop. Jadi semuanya berjalan beriringan dan tetap hidup," kata dia.

Cara itu menurut Diana dan Vivi bisa diadaptasi oleh Indonesia, meski butuh waktu dan proses yang tidak cepat. Apalagi, Indonesia sangat kaya dengan keberagaman, dari Sabang hingga Merauke.

"Indonesia itu sangat heterogen, dan Jepang lebih ke homogen. Namun untuk kemungkinan, tentu ada (untuk Indonesia)," tutup Diana.

Baca juga: Hubungan RI-Jepang diharapkan meningkat lewat Festival Budaya Jepang
 
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019