Puluhan TKI deportasi yang sakit sudah ditangani Kesehatan Pelabuhan

Puluhan TKI deportasi yang sakit sudah ditangani Kesehatan Pelabuhan

Ratusan TKI bermasalah yang dipulangkan dari Sabah Malaysia tiba di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kamis (10/10). (FOTO ANTARA/Rusman)

Nunukan (ANTARA) - Petugas Kesehatan Pelabuhan Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menangani sebanyak 32 tenaga kerja Indonesia (TKI) deportasi yang mengalami sakit.

"Penyakit yang diderita para TKI deportasi ini semuanya gatal-gatal saja," kata Kepala Kesehatan Pelabuhan Kabupaten Nunukan, dr Baharudllah di Nunukan, Selasa.

"Semua TKI deportasi yang kami tangani hari ini menderita penyakit kulit atau gatal-gatal," tambahnya.

Namun diakuinya bahwa sebagian TKI deportasi itu penyakit kulit yang dideritanya telah tampak parah karena mulai benjol-benjol.

Penanganan yang dilakukan petugas Kesehatan Pelabuhan dengan memberikan obat antigatal.

Baharullah menyebutkan pihaknya senantiasa melakukan penanganan maksimal terhadap TKI deportasi yang mengalami sakit.

Setelah diperiksa secara medis, TKI yang sakit tersebut diserahkan kembali kepada  Balai Pelayanan Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Nunukan.

Puluhan TKI Ilegal Dideportasi dari Malaysia


Salah seorang TKI deportasi yang sakit bernama Ahmad di Nunukan menyebutkan bahwa penyakit kulit yang dialaminya ketika berada dalam penjara Malaysia.

Selama lima bulan dalan kurungan di penjara negeri jiran, kata dia, selama dua bulan mengalami sakit gatal-gatal.

Ia mengatakan, gatal-gatal yang dialaminya karena kondisi kamar tidur dan air yang disediakan sangat kotor.

"Kami ini gatal-gatal karena kamar tidur dan air mandinya sangat kotor," kata pria asal Kabupaten Bone, Sulsel ini.

Baca juga: Petugas Kesehatan Pelabuhan beri vaksin polio anak TKI

Baca juga: Malaysia usir 117 WNI pekerja ilegal di Sabah

Baca juga: TKI keluhkan lambannya pelayanan PJTKI di Nunukan

Baca juga: 315 TKI ilegal dideportasi ke Nunukan dua hari berturut-turut
Pewarta : Rusman
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019